CERITA DI SORE HARI

Tulisan Oleh : Tomy Rahmatwijaya 
                       


Senja sore hari di bawah payung kota Malang mengingatkanku akan sebuah janji-janji yang keluar dari mulut ini. Janji-janji kepada orang yang meliharkan dan merawatku akan sebuah perjuangan dan cita-cita. Mungkin sudah menangis melihatku seperti ini. Aku yang selalu banyak omong, berbasa-basi depannya, atau mungkin membohongi kedua orang itu.

Senja saat ini menyandarkanku pada dinding batu tempatku beristirahat. Aku menutup mata, terjaga sejenak dan mengingat kembali omong kosong yang telah ku lakukan. Sejenak aku berpikir untuk pulang ke kampung halaman dan menghilang dari jejak-jejak perantauan ini. Tidak !! Itu bukan solusi yang baik untuk menyelesaikan masalah ini. Pulang bukanlah jalan satu-satunya untuk keluar dari masalah ini.

Aku kemudian keluar ke dunia yang tak kenal logika. Melihat kiri-kanan, yang membuatku seperti orang tolol. Kulihat kursi taman yang berada di pojokan. Aku duduk sambil menyilangkan kaki dan bersender pada kursi itu.

Tidak ada aktifitas yang berarti terjadi di hadapanku. Melihat sepasang kekasih bergandengan tangan atau anak kecil yang bermain bersama orang tuanya di taman ini. Setiap orang sepertinya sibuk dengan kesenangan masing-masing dan melupakan urusan yang lain.

Kulihat danau dengan airnya yang tenang bersama dengan angsa-angsa menari diatasnya. Mengingatkanku akan harmonisasi keluarga yang dipenuhi dengan kehangatan. Diselimuti dengan rasa kekeluargaan yang kuat.

Awal perjalananku, melayang diatas laut yang menyambung Jawa dan Sulawesi, sangat bersemangat mencari ilmu sampai ke seberang pulau. Mencari jatidiri, dan mencari arti kehidupan. Tapi seiring dengan berjalannya detik jam dan bergantinya hari, semua yang kujalani ini seperti sia-sia. Bukannya tanpa sebab, aku mengingkari sebuah komitmen awalku sebelum ini. Belajar dengan tekun, tapi sudah menjadi takdir alam seperti ini.

Menyesal !!! Mungkin itu kata yang paling tepat menggambarkan sketsa yang ada di kepalaku saat ini. Ujian Tengah Semester hari ini aku tidak masuk. Aku sekarang menjadi seolah menjadi anak yang paling tidak berguna. Hanya membuang uang yang diberikannya setiap bulan. Mengantarku terhadap rasa bersalah yang sangat hebat.

Ujian siang hari masih bisa aku layani. Meskipun dengan terseret-seret, tapi mungkin gaya gravitasi di tempat tidurku sangat kuat sehingga sulit untuk mengangkatku bahkan ke kamar mandi yang berada tepat di samping kamarku.

Kemarin aku sudah mendapat lampu kuning. Peringatan yang menandakan aku masih disayang olehnya. Peringatan yang kapan saja bisa langsung melemparkanku ke kampung halaman. Masih adakah kesempatan yang sudah diberikan olehku terjadi lagi tahun ini ??? Hanya mereka yang tahu jawabannya. Orang yang telah bersusah payah mengirimku kesini.

Jika berpikir sejenak, sangat besar besar beban yang dirasakan pemuda ini. Seakan alam menuntutku untuk menjadi manusia yang produktif. Dan dunia yang bekerja keras setiap hari sangat kontras dengan karakterku yang malas. Malas seakan sudah menjadi penyakit dalam diriku. Sempat terbersit di benakku akan melewati lorong waktu dan menjadi anak kecil lagi. Anak yang belum tahu kerasnya dunia, anak yang belum mempunyai tanggungjawab yang besar, dan anak yang hanya ingin bermain.

Bermain sepak bola di lapangan bersama teman-teman masa kecilku. Menggiring dan menggocek bola dengan senangnya sampai membobol gawang lawan. Atau mungkin bermain main layang-layang di padang rumput yang terhampar luas yang tepat berada di belakang rumahku.

Cukup !!! Berhentilah mengigau. Jangan berpikir untuk menjadi anak-anak lagi, aku sudah dewasa !!! Ketika aku berpikir untuk kembali ke masa kanakanku, itu tidak mungkin. Tetapi jika tetap terus memaksa, aku akan menjadi seorang pemuda yang bersifat kekanak-kanakan.

Melihat teman-teman kuliahku yang lain, seolah dikejar oleh bom waktu yang siap meledak kapan saja jika tidak lulus dengan waktu normal. Saat melihat teman-temanku berjuang untuk dirinya, aku seperti hanya seekor siput yang berjalan lamban dan hanya bisa melihati mereka semua bekerja.

Ibuku pernah mengatakan, "Tidak ada kata terlambat untuk belajar". Yang diejawantahkan itu terlambat belajar hanyalah orang-orang yang sudah mati. Ibuku pun saat ini masih belajar, entah belajar tentang apa. Pertanyaannya sekarang bukan masalah belajarnya, tapi lulus dari kampus. Sampai kapan aku menjadi budak intelektual, itu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh aku sendiri. Orang yang menjalaninya.

Sayangnya, tidak ada orang yang mau terlalu mengerti dengan keadaanku seperti ini. Senja akan segera berlalu. Semoga dilema saat ini menjadikanku manusia yang terus bisa berpikir.


MENULIS TENTANG TUJUAN HIDUP

Penulis : Saiful Haq

Ketika orang hidup di dunia, menurut saya, harus punya sesuatu tujuan agar hidup itu jelas mau kemana, untuk apa dan buat siapa. Tak sekedar hidup, lahir mengalay, menua dan innalilla. Tujuan orang hidup pun beragam, tapi kebanyakkan punya satu yang pasti, yaitu masuk surga. Masuk surga itu tujuan jangka panjang, bila terlalu berfokus pada jangka panjang, saya sering mengalami kebosanan, maka solusi yang saya ciptakan adalah menciptakan tujuan-tujuan berjenjang, ada jangka pendek, pendek aja, pendek banget, jangka sedang aja, jangka sedang banget, jangka panjang gak pakai banget, jangka panjang pakai banget dan jangka panjang banget sekali sangat..

·      Jangka pendek : biasanya saya pergunakan untuk sesuatu yang prioritas dalam waktu dua minggu, misalnya : masuk kuliah terus, tidak telat, sampai selesaikan tugas, kalau saat liburan seperti ini target jangka pendek saya : move on dari kasur lebih cepat, mencari buku kuliah, dan mencari teman yang baru pulang dari kampung buat menjadi tempat ngutang, maklum mahasiswa perantau yang mirip bang toyib : jarang pulang.

  • Jangka pendek aja : tujuan yang ada difase ini bersifat seminggu kadang lebih beberapa hari, sering saya pergunakan untuk menyelesaikan target jangka pendek yang rutin dan ditambahkan dengan target satu hal yang rutin juga, biasanya menulis sebuah tulisan baru untuk blog atau mencuci lusinan baju kotor.  Yang satu ini derita..

  • Jangka pendek banget : cukup simple : sholat subuh full, tidur yang cukup yang saya tidak tahu jumlah cukupnya berapa lama, dan perhatikan waktu makan.

  • Jangka sedang aja : membutuhkan waktu saya sekitar tiga bulan, biasanya pada tingkatan ini untuk mengkhatamkan buku bacaan, membeli peralatan mandi, dan mengganti sim card smartphone.

  • Jangka sedang banget : dalam fase ini kurun waktu yang dibutuhkan satu bulan, saya pergunakan yang untuk kebiasaan mulia yaitu menyisihkan sebagian uang jajan kepada celengan saya yang membutuhkan. Itung-itung sedekah.

  • Jangka panjang gak pakai banget: saya pergunakan fase ini untuk menghabiskan tabungan untuk hal-hal yang saya impikan seperti balik ke kota asal dan membeli sepatu atau baju impian. Biasanya ini menggunakan waktu setahun, semacam cuci gudang pada level ini.

  • Jangka panjang pakai banget: level inilah adalah pusat tujuan-tujuan hidup saya, dimana segala kesejahteraan hidup dan kepuasan pribadi saya gantungkan. Mimpi-mimpi besar dan ambisius saya bersemedi, begitu banyak isinya hingga tak memiliki batas waktu yang dapat saya ucapkan hanya Tuhan saya yang tahu sebelum masuk pada Tujuan akhir yang jangka panjang banget sekali sangat yaitu surga.

Begitulah hidup saya selama ini hidup, ada tujuan terus menerus, bila terkadang dengan hidup semacam itu merasa bosan maka saya sempatkan sebulan untuk bersikap “nakal” karena memang asalnya mudah merasa bosan. Sempat terlintas difikiran saya, gaya hidup seperti itu sama saja gaya hidup penuh aturan dan itu benar. Maka sebagai orang yang berfikir bebas dan suka kebebasan aturan semacam itu saya beri tambahan: susunan dapat berubah sewaktu-waktu.

Baru-baru ini, saya telah mencapai salah satu tujuan hidup saya yang ada di jangka panjang pakai banget yaitu membuat kumpulan dari tulisan blog ini, Saya jadikan semacam e-book tapi bedanya ini lebih jelek :

Gambar Covernya yang biasa aja

Yang ikhlas baca boleh buka di link ini --> AYKUSAY : Ayaman Hati

Penutup, hikmah dari tujuan hidup yang saya dapatkan adalah berbuat sesuatu yang baik minimal pada diri sendiri, syukur bisa berguna untuk orang lain dan dapat membuat menikmati/menjalani hidup dengan penuh semangat. Singkat kata: mengisi waktu dari Tuhan dengan kebaikan. 

COMING SOONG SANGGARA' 2013

Siapkan Dirimu dan Dapatkan Passionmu Sebagai Perantau Sulawesi Selatan
By : IKAMI SULSEL CABANG MALANG (Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan cabang Malang)



Diskusi TERAS 58 'Bagaimana Seharusnya Mahasiswa ?'

Pemateri : Rahmat Al Kafi




Dibawah sinar bulan dengan penuh khidmat dan canda tawa yang lumrah, kami berdiskusi tentang 'Bagaimana Seharusnya Mahasiswa ?' yang dibawakan oleh Rahmat Al Kafi. Pada diskusi ini disertai oleh beberapa Mahasiswa Baru dan juga Mahasiswa yang telah pernah mengikuti dunia Kemahasiswaan.


Di tengah-tengah diskusi ini terjadi perbincangan yang alot untuk mencari sebuah bentuk ideal bagi sebuah peran Mahasiswa. Konsensus yang sebenarnya pada diskusi ini belum tercapai saking alotnya perbincangan antara setiap peserta.


Untuk bisa melihat materi perbincangan tersebut silahkan klik link berikut :


Materi Diskusi


_________________________________________________________________________________________________

BAGAIMANA SEHARUSNYA MAHASISWA
oleh : Rahmat Al Kafi

Bagaimana seharusnya Mahasiswa? Adalah sebuah tema sekaligus pertanyaan dalam diskusi ini. Sebagai awal, sebelum menuju pada keharusan-keharusan seorang mahasiswa, kita harus mengenal siapa diri kita? Atau siapakah saya?

Soe Hok-Gie [3] dalam tulisannya mengatakan: “Kadang-kadang kita bertanya kepada diri kita sendiri “Siapakah saya?” Apakah saya seorang fungsionaris partai yang kebetulan menjadi mahasiswa sehingga harus patuh pada intruksi dari bapak-bapak saya dalam partai. Apakah saya seorang politikus yang harus selalu realistis dan bersedia menerima kompromi-kompromi principal dan tidak boleh punya idealism yang muluk-muluk? Apakah saya seorang kecil yang harus patuh pada setiap keputusan dalam DPP ormas saya, atau pimpinan fakultas saya, atau pemimpin-pemimpin saya? Ataukah saya seorang manusia yang sedang belajar dalam kehidupan ini dan mencoba terus-menerus untuk berkembang dan menilai secara kritis segala situasi. Walaupun pengetahuan dan pengalaman saya terbatas? Kadang saya bertanya pada kenalan-kenalan saya “siapakah kamu?” seorang tokoh mahasiswa menjawab: “Saya adalah antek partai saya. Kebenaran ditentukan oleh DPP Partai.”[4]

Apakah kita telah mengenal siapa kita? Siapa anda? Siapa kalian? Atau siapa saya? Setelah kita mengenal siapa diri kita. Positif atau tidak, terimalah… itulah wujud kita hari ini. Tapi jangan khawatir perubahan akan terus tejadi. Karena Cuma perubahan yang abadi di atas dunia ini.[5]

“Tak kenal maka tak sayang” kita tidak bisa menyayangi sesuatu tanpa mengenal objeknya. Kita harus mengenal Apa itu mahasiswa sebelum menyayangi dalam bentuk mendalami “bagaimana seharusnya mahasiswa?”

Apa yang di maksud dengan mahasiswa? Mahasiswa adalah Seorang pelajar yang telah menyelesaikan studi SMAnya, dan sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Ada juga yang mengatakan, mahasiswa adalah Agent of change (agen perubahan) karena mahasiswa telah mebuktikan diri berpartisipasi dalam perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia. tahun 1928 (Sumpah Pemuda), tahun 1945 (Proklamasi), tahun 1966 (Orde lama berganti orde baru), dan tahun 1998  (Reformasi). Semoga di hari-hari depan ada lagi.

Masa mahasiswa adalah masa belajar di fase terakhir dari struktur pendidikan formal di Indonesia, bila Anda sudah sampai mahasiswa Anda pasti sudah SMA dan seterusnya, jadi ini fase terakhir. Kenapa saya sebut demikian? Karena sesudah itu maka Anda akan berada dicrossing road, apakah Anda meneruskan ke jalur non–akademik atau akademik. Bila Anda meneruskan ke jalur non-akademik mungkin Anda bisa bekerja di wilayah Anda masing-masing dan disitu mungkin Anda bisa meneruskan satu degree lagi, namanya master, masteryang sifatnya professional untuk menopang keprofesian Anda. Misalnya Anda mengambilmaster bisnis atau mengambil master ilmu-ilmu terapan lain. Jika Anda masuk ke jalur akademik, karena namanya universitas maka Anda akan meneruskan ke jenjang  master, menjadi  Doctor lalu menjadi peneliti dan menjadi Scholar.[6]

Ada beberapa kelompok mahasiswa yang bisa dibedakan berdasarkan pilihan kegiatan. Mahasiswa yang pertama adalah mahasiswa hedonis-konsumtif, zaman itu mereka adalah penikmat orde baru, mereka pergi kuliah naik mobil dizaman itu dimana kebanyakan mahasiswa hanya baru bisa naik motor, sepeda atau jalan kaki untuk menuju kampus. Yangkedua adalah mahasiswa profesional–individualis, kerjaannya kuliah saja, tidak perduli yang lain, menyiapkan diri untuk masa depan, professional tapi individualis. Ketiga, mahasiswa jenis ini, kita istilahkan asketis religius, asketis religius ini dipikirannya hanya agama saja.Keempat adalah mahasiswa yang aktivis, nilai minim, aktif sana-sini. Kelima, mahasiswa yang istilah kita adalah protarian, merasa dirinya sebagai ekspresi kemiskinan, ekspresi penderitaan rakyat kecil, kita bisa lihat dari gaya baju, rambut dll. Selanjutnya Keenammahasiswa yang kecenderungannya adalah melakukan kajian, lalu seakan-akan setelah melakukan kajian secara mendalam, maka problem masyarakat itu selesai.[7]

Dari berbagai paparan kelompok mahasiswa di atas. Bagaimana pun bentuknya mereka tetap mahasiswa dengan ekspresi masing-masing. Kita juga harus mengetahui, budaya akademik di perguruan tinggi dibagi menjadi 13 diantaranya: kritis, kreatif, objektif, analitis, konstruktif, dinamis, dialogis, bersedia menerima kritik, menghargai prestasi akademik, bebas dari prasangka, menghargai waktu, memiliki dan menjunjung tinggi tradisi ilmiah, serta berorientasi pada masa depan.[8]
           
Dalam diskusi kali ini, kita akan mengkaji tentang “Bagaimana seharusnya Mahasiswa” hal ini harus kita kaji sejauh mungkin karena kita harus menyadari bahwa yang merusak bangsa ini adalah: para “Mantan Mahasiswa!”

1. Mahasiswa Harus Berani Berterus Terang (Jujur), Mempunyai Banyak Cita-Cita, Tidak Takut Salah, Independen, Pencari Kebenaran, dan Bertaqwa kepada Allah SWT.
Saya katakan pada diri saya sendiri: saya adalah seorang mahasiswa. Sebagai mahasiswa saya tak bisa mengingkari wujud saya. Sebagai pemuda yang masih belajar dan mempunyai banyak cita-cita, saya harus bertindak sesuai dengan wujud  tadi. Karena itu saya harus berani untuk berterus terang, walaupun ada kemungkinan saya akan salah tindak. Lebih baik bertindak keliru daripada tidak bertindak karena takut salah. Kalaupun saya jujur terhadap diri saya, saya yakin akhirnya saya akan menemukan arah yang tepat. Saya adalah seorang manusia dan bukan alat siapa pun. Kebenaran tidaklah datang dalam bentuk intruksi dari siapapun juga, tapi harus dihayati secara “kreatif”. A man is as he thinks.[9]

a.      Mahasiswa Harus Berani Berterus Terang (Jujur)
 Sifat berterus terang, harus berani di biasakan oleh mahasiswa. Berani menyatakan salah sebagai kesalahan, dan benar sebagai kebenaran.[10] Karena Jujur itu revolusioner.[11] berani menyatakan kebenaran, sebagai sebuah simbol bahwa idealisme masih ditegakkan. Kejujuran-kejujuran di kala mahasiswa akan membiasakan kita hingga selesai kuliah. Mahasiswa harus terus membawa sikap yang jujur berterus terang. Anda akan mendapattrust dari siapapun ketika anda terbiasa berkata jujur.
 
b.      Mahasiswa Harus Punya Banyak Cita-Cita Dan Harus Kritis Dengan Situasi
Seorang pemuda, datang dengan penuh takjub pada gerbang perguruan tinggi. Ia berfikir untuk memasuki dunia baru, dunia untuk membuat field work bagi kemajuan nusa dan bangsa. Saya membayangkan seorang mahasiswa antropologi, yang berusia sembilan belas tahun yang datang dengan cita-cita untuk membuat field work di pedalaman Kalimantan atau Irian Barat. Atau seorang jurusan kimia yang berfikir untuk mendapatkan sejenis cairan baru yang dapat melambungkan manusia ke bulan. Atau seorang mahasiswa hukum yang datang dengan ide-ide yang sarat tentang rule of law.[12]
 
Dalam waktu beberapa tahun, pemuda berumur Sembilan belas tahun ini mengetahui bahwa tak mungkin ada “field work” ke Irian Barat atau pedalaman Kalimantan. Ia harus puas dengan skripsi tentang masyarakat tukang buah-buahan di pasar minggu. Dan pelan-pelan ia harus melupakan idealismenya tentang cairan yang dapat melontarkan manusia ke bulan. Dan mahasiswa fakultas hukum ini mengetahui, bahwa di atas hukum terdapat hukum yang tidak tertulis. Tentara, polisi, jaksa dan garong-garong yang punya koneksi.[13]
 
Digambarkan diatas, bahwa ketika memasuki gerbang perguruan tinggi, para mahasiswa sangat antusias dan telah mempunyai mimpi masing-masing, tergantung dari jurusan apa yang mereka ambil. Namun, pada kenyataanya, kampus-kampus hari ini hanya membentuk mahasiswa yang rajin kuliah, cepat lulus dan seterusnya… dan seterusnya…
Namun, yang menjadi poin pentingnya, bahwa dalam kondisi apapun mahasiswa harus konsisten pada cita-citanya. Dalam prosesnya, mahasiswa harus kritis pada kondisi-kondisi yang tidak seharusnya.
 
c.       Mahasiswa Harus Tidak Takut Salah
Dalam proses menuntut ilmu, kesalahan adalah salah satu proses belajar dan kebenaranadalah buah dari proses belajar. Tidak perlu takut salah, seperti kata Gie tadi, jangan sampai karena takut salah kita tidak berani melakukan apapun sehingga akhirnya kita tidak memperoleh apa-apa. Padahal dari proses salah dan berani mengambil sikap merupakan proses belajar yang paling berharga.
 
d.      Mahasiswa Harus Independen Dalam Gerakan Dan Kehidupannya
Menurut Anies Baswedan: Pergerakan Mahasiswa mempunyai karakter moral yang jelas, hitam putih; benar-benar, salah-salah tidak ada area abu-abu. Dan mahasiswa memang harus begitu. Mahasiswa jangan takut, menurut saya “A” nggak ada masalah, Anda tidak mempunyai kepentingan apapun kalau benar Anda katakan benar kalau salah Anda katakan salah.[14]
 
Mahasiswa harus independen, dia berbicara sesuai dengan keilmuan yang ia miliki, dia harus lepas dari ikatan intruksi, doktrin yang mengikat, yang mebuat mereka harus lari dari kebenaran. 
 
e.      Mahasiswa Harus Mencari dan Menegakkan Kebenaran
Mencari kebenaran adalah khittah dari tugas seorang mahasiswa menuntu ilmu. Mencari kebenaran dari yang sudah benar dan mencari yang baik dari yang sudah baik.[15] Walaupun mereka mengikuti sebuah organisasi lalu mereka diajarkan sesuatu yang bertentangan dengan idealismenya, maka mahasiswa tersebut harus melawan. Tidak ada fanatisme terhadap organisasi yang bisa saja salah dan benar. Fanatisme hanya pada kebenaran dan kebaikan.
 
f.       Mahasiswa Harus Bertaqwa kepada Allah SWT
Seorang Mahasiswa Harus Bertaqwa kepad Allah. Dunia mahasiswa justru membuat kita jauh dari Tuhan. Padahal kebenaran yang hakiki hanyalah ajaran Tuhan. Namun, tidak bisa dipungkiri di kala mahasiswa sikap kritis kita di hadapkan pada apapun, termasuk eksistensi Tuhan. Tak banyak manfaatnya terus-terusan membahas hal seperti itu. Semua ajaran dari Allah benar kecuali yang telah diubah atau di inpretasikan salah oleh manusia.
 
2.   Mahasiswa Harus Aktif di Organisasi, Manajemen Waktu, Belajar Kepemimpinan, Berbicara di Depan Umum, Berfikir, dan Bertindak Sesuai Dengan Kata dan Fikirannya.
Untuk menambah skill dan wawasan individu dari seorang mahasiswa, maka mahasiswa harus aktif di organisasi yang dia sukai, belajar kepemimpinan dan menjadi pemimpin, belajar berbicara yang baik, berfikir yang baik dan mampu bertindak sesuai dengan kata dan fikirannya.


a.    Mahasiswa Harus Aktif Di Organisasi
Dalam wawancara tetang mahasiswa, Anies Baswedan mengatakan: “Ketika Anda melewati fase kuliah ini, Anda akan menjadi orang-orang “bekerja” tidak lagi belajar. Bekerja itu diperlukan kemampuan bukan sekedar prestasi akademik tapi dibutuhkan pengalaman, keterampilan untuk bisa memimpin, mengelola, bernegoisasi. Pengalaman berorganiasi selama kuliah, itu merupakan modal untuk bisa meniti karir kedepan dengan baik. Oleh karena itu saya sangat mendukung dan menurut saya sangat penting bagi anak-anak yang sedang kuliah untuk mengembangkan diri lewat organisasi. Jadi, saya selalu mengatakan, aktif dikampus, itu sebenrarnya sebuah kewajiban secara moral, secara hukum mengatakan itu tidak. Tapi Anda sebagai mahasiswa itu wajib. Kalau Anda tidak mengembangkan diri lewat organisasi sekarang, sesudah Anda lulus atau memulai berkarir saat itu Anda menyesal, kenapa dulu tidak aktif? Kenapa dulu tidak mengembangkan kepemimpinan? Dari pada Anda menyesal nanti, kerjakan, jadilah aktivis, tapi aktivis itu bukan demonstran, beda!.”[16]

Aktif di organisasi, akan membuat mahasiswa bertemu dengan banyak orang dan banyak karakter. Dari situ mahasiswa dapat banyak belajar dari proses interaksi antar manusia di dalamnya. Dalam organisasi mahasiswa dapat mendapatkan ilmu tentang manajemen, pengaturan, pemikiran, menemukan jati diri, pembentukan karakter dan lain-lain. Ilmu-ilmu tadi dapat digunakan untuk kehidupan setelah kuliah. Contoh kecilnya dalam mengurus keluarga. Mengurus keluarga butuh juga pelajaran tentang organisasi.

b.   Mahasiswa Harus Bisa Menjalani Secara Bersamaan, Berorganisasi dan Kuliah. (Manajemen Waktu)
Anies Baswedan menambahkan:
“Anda sebagai mahasiswa, apa sih kewajiban mahasiswa ini? Kuliah, bukan? Itu bukan dinomorsatukan atau tidak, itu sesuatu yang harus dikerjakan. Jadi, jangan katakan itu terpisahkan. Itu sudah hal yang harus dikerjakan. Jadi, Demikian juga dengan aktivisme, proporsinya akan tergantung penyesuaian pada suasanannya. Seperti Anda tanyakan seperti saya ”Mas anis, ingin menjadi suami atau ingin menjadi bapak?” Gimana dong? Itu tidak bisa terpisahkan, dalam diri saya ini banyak menempel beberapa tugas, Anies sebagai anak, ayah, rektor, pengurus Fullbright dan Anies sebagai penggagas gerakan Indonesia Mengajar. Saya tidak bisa kemudian mengatakan “Mau yang mana?“ Semuanya harus dijalankan. Ada waktunya pada saat saya disini mengerjakan A, B, C, D, itu yang saya harus bereskan dengan baik, saat saya di Jakarta dengan keluarga itu yang harus saya lunasi dengan baik. Jadi kebiasaan untuk memiliki multiple role, tidak bisa dimulai saat Anda sudah lulus nanti, tapi biasakan sekarang. Saat Anda tidak terbiasa dengan multiple role Anda akan selalu berpikirnya ini atau ini, ini atau ini, Anda harus bisa mengerjakan semuanya. Anda pernah melihat pemain juggler? Bisa tidak seorang juggler itu berkonsentrasi hanya satu bola saja? Ada masanya Anda mainkan satu bola terus kan? Ada masanya semuanya harus dikerjakan ada  yang bisa 3 bola, 5 bola atau 10 bola. The more you practice managing multiple role the more experience you havedan Anda bisa mengerjakan itu tanpa harus melihat lagi.[17]


c.    Mahasiswa Harus Belajar Kepemimpinan dan Mampu Menjadi Pemimpin
You are a leader if and only if you have followers. Anda pemimpin hanya dan jika Anda punya pengikut. Dalam mempelajari Kepemimpinan, anda bisa ikut training-training karena itu bisa membantu menstrukturkan apa yang harus dipelajari dalamleadership. Yang kedua, ambil pengalaman untuk memimpin karena memimpin itu bukan pekerjaan yang secara teoritis bisa dengan mudah didefinisikan. Memimpin itu adalah pekerjaan yang membutuhkan keterampilan pengalaman. Anda mau belajar berenang? Saya ajak masuk diruang yang canggih, saya ajari Anda berenang disitu, alat simulasi yang luar biasa, lalu saya ajak Anda ke kolam renang, bisa Anda berenang? Bisa satu jam, habis Anda nyemplung Anda baru berenang, setelah itu Anda tunggu kemampuan berenang Anda. Saya selalu mengatakan belajarlah berorganisasi dan bermasyarakat di kampus karena kampus itu karakternya seperti kolam renang. Karekter kolam renang itu pakai bata,  kedalamnnya terukur, tekanannya terukur, ombaknya tidak ada. Anda mau belajar berenang di Samudra Pasifik? Kedalamanya tidak terukur, suhunya luar biasa dingin, ombaknya besar.That’s leadership challenge for the future, itu lah tantangan bagi masa depan Anda. Kebanyakan orang baru belajar berenang saat mereka sudah sampai samudra pasifik, bisa survive tapi bisa juga tenggelam. Kalau Anda belajar kepemimpinan di saat mahasiswa, Anda masih belajar di lingkungan yang masih terukur, kadar beban kepemimpinan Anda itu terukur, seperti Anda belajar berenang di kolam renang. Karenanya kalau mau belajar kepemimpinan lakukan sekarang, jangan nanti saat sudah selesai kuliah. Karena disana tantangannya sangat besar sekali, mendadak Anda baru belajar kepemimpinan saat tantangaannya sangat besar sekali, kalau Anda gagal maka Anda akan tenggelam.[18]

d.   Mahasiswa Harus Mampu Berbicara Dengan Baik Di Depan Umum Maupun Interaksi Personal
Mahasiswa adalah manusia intelektual. Dalam menyampaikan gagasan-gagasan intelektual, dibutuhkan kepandaian berbicara (Retorika). Karena, kesan pertama untuk mengetahui seorang mahasiswa cerdas atau tidak adalah dengan melihat cara mahasiswa tersebut berbicara. Untuk menilai selanjutnya, kita bisa melihat dari sikapnya. Pandai berbicara, akan menjadi pandai negosiasi, dan akhirnya pandai mempengaruhi orang lain. Namun peringatan bagi mahasiswa yang pandai berbicara, adalah selalu lah berbicara dalam konteks menyebar kebenaran dan kebaikan. Tergelincirnya lidah lebih berbahaya daripada tergelincirnya kaki.[19]

Gerakan mahasiswa memiliki karakter intelektual, ini yang membedakan dengan gerakan-gerakan pemuda yang lain. Karenanya Anda harus berbicara dengan moral dan dengan ilmu, caranya pakailah data. Anda kalau marah yah harus pakai data, tidak harus melakukan penelitian tapi yang penting ada punya data. Kalau misalnya Anda memprotes pemerintah, yang menaikkan BBM. Anda harus bisa bilang kenapa mau protes, secara data Anda harus bilang ini menyebabkan kemiskinan bukan semata-mata ini sebuah keputusan yang saya mau![20]

e.    Mahasiswa Harus Mampu Berfikir Dengan Baik
Mahasiswa harus membiasakan berfikir kritis, solutif, kreatif dan inovatif. Berfikir dapat meningkatkan kapasitas keilmuan. Upaya berfikir dilakukan untuk mencari yang terbaik dari yang terbaik. Kebiasaan berfikir akan memudahkan kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan.

f.     Mahasiswa Harus Mampu Meluruskan Kata, Fikiran, Dan Perbuatannya.
Setelah pandai berbicara, mampu berfikir dengan baik, mahasiswa harus juga meluruskan dua hal tadi menjadi sebuah tindakan. Mahasiswa harus satu kata, fikiran dan perbuatan. Prinsip seperti ini mengandung aspek kejujuran, konsistensi, tanggungjawab, kedisiplinan dan jauh dari hal yan disebut kemunafikan. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.[21] Bila anda berfikir bahwa mencuri itu tidak boleh dan tidak baik, anda juga harus mengatakan mencuri itu tidak baik, dan dalam sikap dan perbuatan. Anda tidak boleh mencuri.

g.   Mahasiswa harus haus ilmu pengetahuan dan Belajar Sejarah.
Sebagai bagian dari kehidupan akademik di perguruan tinggi, mahasiswa harus haus ilmu pengetahuan. Mahasiswa harus menemukan pengetahuan baru, bukan hanya sebagai korban akademik yang sekedar mengetahui bukan menemukan. Kita harus belajar banyak pada kasus-kasus mahasiswa di Amerika Serikat yang berani menemukan sesuatu seperti Steve Jobs (Apple), Bill Gates (Microsoft), dan Mark Zuckerberg (facebook). Mereka adalah orang yang akhirnya keluar dari kampus, untuk fokus pada temuannya, dan hari ini menjadi kaya raya. Meskipun budaya akademik hari ini tidak banyak mendukung itu, mahasiswa harus berani melawan arus. Mahasiswa harus mencoba menemukan hal-hal baru. Mahasiswa juga harus membuka diri menjadi ilmuwan. Dan intinya, segala sesuatu bisa dipelajari. Ingat sebuah pesan inspiratif “Untuk menjadi bisa dibutuhkan bakat 1% dan kerja keras 99%.”

Selain itu, untuk mempermudah pengetahuan, mahasiswa perlu belajar sejarah. Seperti kata Bung Karno: “Jas Merah (Jangan Sekali-kali melupakan sejarah).” Dari sejarah, kita bisa belajar kesalahan-kesalahan dan keberhasilan orang-orang sebelum kita. Kita tidak perlu terjatuh pada kesalahan yang sama dari orang sebelum kita. Dan kita perlu mengambil manfaat dari keberhasilan mereka.



3.   Mahasiswa harus mengembangkan potensinya, open mind dan mencari teman sebanyak-banyaknya, dan mengabdi kepada masyarakat.

a.    Mahasiswa harus mengembangkan potensinya
Setelah mendapatkan hal-hal diharuskan tadi , tidak bisa dipungkiri, mahasiswa mempunyai bakat, minat dan hobi yang berbeda-beda. Ada yang suka menulis, melakukan kajian, fotografi, film, musik, seni, olahraga, mencitai alam, dan seterusnya. Mahasiswa tidak harus sama dengan teman-temanya. Karena temannya menekuni musik, dia jugamemaksakan diri menjadi musisi. Tidak harus. Mahasiswa harus membaca potensi dirinya, lalu kemudian diwujudkan dengan fokus pada pengembangan minat itu saja.

Bruce lee mengatakan:
“saya tidak takut pada orang yang telah berlatih seribu macam tendangan, tapi saya takut pada orang yang melatih satu macam tendangan sebanyak seribu kali”

b.   Mahasiswa harus open mind
Open mind artinya berfikir terbuka, dengan berfikir terbuka kita dapat bergaul kepada siapapun dan pada orang yang macam-macam modelnya. Mahasiswa perlu menyadari, dalam kehidupan, kebenaran hari ini bisa menjadi kesalahan di kemudian hari. Tidak ada kebenaran yang hakiki kecuali dalam kitab-kitab Ajaran Allah SWT. Dengan bergaul dengan banyak orang kita bisa belajar banyak.

c.    Mahasiswa harus mencari teman sebanyak-banyaknya
Bergaul dengan banyak orang, bisa membuat kita memperoleh teman yang banyak. Punya banyak teman akan membuat kita dapat memperoleh banyak hal dari teman kita, prinsip-prinsip Brotherhood bisa didapatkan dalam kasus ini. Akan banyak keuntungan ketika mempunyai banyak teman, contoh paling kecil adalah anda adalah mahasiswa asal Makassar, anda ingin sekali pergi ke Lombok, naik gunung rinjani atau sekedar berwisata di Gili Trawangan dan pantai. Anda cukup menghubungi teman anda yang dari Lombok. Begitupun untuk kasus lainnya.

d.   Mahasiswa harus mengabdi kepada masyarakat
Sebagai salah satu amanat Tri Darma Perguruan Tinggi selain pendidikan dan penelitian, pengabdian masyarakat harus juga menjadi bagian dari keseharian mahasiswa. Lakukanlah bentuk-bentuk pengabdian masyarakat sesuai dengan kapasitas keilmuan dan kemampuan kita.

4.   Mahasiswa harus kreatif dan bisa menghasilkan duit sendiri.
a.    Mahasiswa harus kreatif
“Kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya berguna (useful), lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik atau banyak.” (Mangunhardjana (1986 : 11))

“Kreativitas adalah suatu kemampuan umum untuk menciptakan suatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya” (Utami Munandar (1995 : 25))

Dari definisi kreativitas diatas seorang mahasiswa harus mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-harinya yang penuh dengan tantangan, persoalan dan perjuangan. Mahasiswa dalam kesehariannya harus berisi penemuan hal baru, gagasan-gagasan baru, penuh dengan imajinasi-imajinasi baru yang diperuntukkan untuk melewati tantangan, menyelesaikan persoalan dan mempermudah perjuangan.

b.   Mahasiswa harus belajar mecari duit sendiri.
Sebuah penelitian dari Dr Stephen Carr Leon yang dituliskan dalam artikel yang berjudul “Mengapa Yahudi Pintar?”
Di Perguruan Tinggi Yahudi terutama fakultas Ekonomi, para mahasiswa dikumpulkan dalam satu kelompok yang berisi sepuluh orang. Mereka harus menyelesaikan proyek senilai $US 1 juta. Untuk dapat lulus dari perguruan tinggi tersebut.

Pelajaran diatas adalah bagaimana cara bangsa Yahudi bisa cerdas. Yaitu dengan penerapan beberapa kebiasaan yang teman-teman bisa baca artikelnya lebih lanjut.

Belajar mencari uang saat mahasiswa adalah modal berharga untuk kehidupan setelah kampus. Bisa melahirkan pengusaha-pengusaha muda baru. Yang kala mahasiswanya bisa mengurangi beban pembiayaan hidup dan ketika lulus, turut berpartisipasi memajukan negara. Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla mengungkapkan,
“minimnya jumlah pengusaha dari total populasi penduduk Indonesia membuat kemakmuran masyarakat berjalan tersendat-sendat. Kekurangan pelaku industri menjadi salah satu kendala penghambat kemajuan bangsa. Pengusaha di Indonesia ini kurang satu persen dari populasi penduduk. Bila dibandingkan misalnya dengan Malaysia, yang punya pengusaha dua persen dari jumlah penduduknya, kita masih kalah. dunia sekarang dikuasai oleh kebutuhan pangan, air, energi, dan logam. Keempat rupa penguasaan tersebut hanya bisa dipenuhi apabila sebuah negara memiliki banyak pengusaha yang mumpuni.”[22]

Inilah salah satu motivasi mahasiswa untuk mulai merintis bisni. Apapun bentuknya.
Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang… Pertumbuhan angkatan muda di Indonesesia itu setipa tahunnya bisa mencapai 3 juta. Ternyata, mayoritas berorientasi menjadi PNS atau pegawai swasta. Nah, mind set inilah yang diharapkan berubah. Anak muda tidak hanya bisanya bercita-cita menjadi PNS dan pegawai swasta. Justru sebaliknya, anak muda harus bercita-cita menciptakan lapangan kerja untuk menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi. Anak muda seharusnya memiliki impian yang revolusioner untuk menaklukkan dunia, bukan ditaklukkan dunia. Coba tengok Bill Gates yang sejak usia 13 tahun, saat berdiskusi dengan rekannya, mampu memiliki statement revolusioner dan visioner untuk kategori usianya. “Mari kita tampil dan menjual sesuatu kepada dunia,” ujarnya. Impiannya saat itu adalah agar setiap rumah memiliki satu computer. Sehingga, pada umur 20 tahun, akhirnya ia mendirikan Microsoft. Dampaknya? Manusia memiliki kecenderungan untuk memiliki personal computer. Belum lagi demam computer jinjing yang pasarnya semakin luas. Komputer kini sudah menjadi lifestyle yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.[23] Dan masih banyak kisah sukses lainnya.

Lalu, bagaimana Seharusnya Mahasiswa? Beberapa bagian seperti yang telah disampaikan diatas. Dan selebihnya tergantung proses, pengalaman dari hari-hari kita menjadi mahasiswa.

Meskipun Mahasiswa Indonesia dihadapkan pada realitas-realitas yang anti Idealisme. Namun, mahasiswa akhirnya dihadapkan pada dua pilihan.
Yang pertama tetap bertahan dengan cita-cita idealisme. Menjadi manusia-manusia yang non-kompromistis. Orang-orang dengan aneh dan kasihan akan melihat mereka sambil geleng-geleng kepala: “Dia pandai dan jujur, tetapi sayangnya kakinya tidak menginjak tanah.” Atau yang kedua dia kompromi dengan situasi yang baru. Lupakan idealism dan ikut arus. Bergabunglah dengan grup yang kuat (partai, ormas, ABRI, klik dan lain-lainnya) dan belajarlah teknik memfitnah dan menjilat. Karier hidup akan cepat menanjak. Atau kalau mau lebih aman kerjalah disebuah perusahaan yang bisa memberikan sebuah rumah kecil, sebuah mobil atau jaminan-jaminan lain dan belajarlah patuh dengan atasan. Kemudian carilah istri yang manis. Kehidupan selesai.[24]

Semua keharusan diatas, hanyalah pilihan bagi mahasiswa, karena menjadi multi talenta itu tidaklah mudah. Namun, bila ada yang mampu, akan lebih baik.

Mahasiswa terbaik adalah mampu menjadi dirinya sendiri.

Sekian…
Salam Lestari…
Wassalam.

Download Format PDF klik-->> [Download]
____________________________________________________________ 
Catatan Kaki:

*=1 Tema Diskusi. Disampaikan pada Diskusi Intelektual Teras58. Jum’at, 19 Juli 2013. Materi ini sekaligus sebagai sambutan para mahasiswa baru angkatan 2013.
2 Mahasiswa yang aktif di Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) UKM DIMPA. Sedang berusaha sekuat tenaga menyelesaikan studi di Universitas Muhammadiyah Malang. Lebih lanjut bisa mengakses http://pandangankafy.blogspot.com.
3 Seorang aktivis 66, pendiri Mapala, Mati muda, mati dalam kondisi paling idealis dalam hidupnya.
4 Soe Hok Gie “Siapakah saya?” dalam Rudy Badil,. Luki Sutrisno Bekti,. Nessy Luntungan. (Ed.). (2010). Soe Hok-gie Sekali Lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya. Jakarta:KPG. Hlm. 461
5 Rhenald Kasali. (2005). Change! Jakarta: Gramedia PU. Hlm. 32.
6 Anies Baswedan saat Wawancara tentang mahasiswa. Oleh unejpos.blogspot.com
7 Ibid.
8 Reza Nugraha Putra “ketika mahasiswa dituntut berfikir kreatif” (edukasi.kompasiana.com) diakses pada tanggal 19 bulan juli 2013.
9 Soe Hok Gie “Siapakah saya?” dalam Rudy Badil,. Luki Sutrisno Bekti,. Nessy Luntungan. (Ed.). Op. Cit. Hlm. 461
10 Kata mutiara Soe Hok Gie
11 Dikutip dari http://pandangankafy.blogspot.com
12 Soe Hok Gie “Siapakah saya?” dalam Rudy Badil,. Luki Sutrisno Bekti,. Nessy Luntungan. (Ed.). Op. Cit. Hlm. 464
13 Ibid.
14 Anies Baswedan. Oleh unejpos.blogspot.com. Op. Cit.
15 Kata Mutiara Ahmad Wahib dalam Catatan Hariannya. “Pergolakan Pemikiran Islam”
16 Anies Baswedan. Oleh unejpos.blogspot.com. Op. Cit
17 Ibid.
18 Ibid.
19 Mahfudzat.
20 Anies Baswedan. Oleh unejpos.blogspot.com. Op. Cit.
21 Kata Mutiara Soe Hok-gie
22 Dikutip dari okezone.com “JK: Pengusaha Tak Banyak, Negara Tak Maju” diakses pada 19 juli 2013.
23 Badroni Yuzirman, Iim Rusyamsi. 2012. “Keajaiban Tangan Di Atas”. Jakarta:QultumMedia. Hlm. 5.
24 Soe Hok-gie. “Generasi Yang Lahir Setelah Tahun Empat Lima” Tulisan yang diterbitkan oleh Kompas. Kamis, 16 Agustus 1969. Dalam Rudy Badil,. Luki Sutrisno Bekti,. Nessy Luntungan. (Ed.). Op. Cit. Hlm. 465.

PELANTIKAN PENGURUS PERIODE "KELUARGA CEMARA"


Malang, tanggal 29 Juni 2013 IKAMI Sulsel Cabang Malang melangsungkan Pelantikan Pengurus Cabang periode KELUARGA CEMARA. Pada hari itu bertempat di AULA Kampus II UMM, anggota dan juga calon pengurus IKAMI Sulsel Cabang Malang bersama undangan lainnya dengan penuh niat yang tulus melangsungkan Ceremony Pelantikan.

Pada periode KELUARGA CEMARA yang dipimpin oleh saudara FEBRY RAZZAQ TRIPUTRA mengusung visi Transformasi Misi Solidaritas dan Intelektualitas menuju Organisasi Mandiri. Pada kepengurusan ini di isi oleh 36 anggota yang dibagi perbidang sesuai dengan tata kelola Organisasi.





Di kesempatan ini saudara Muh. Arif sebagai Presidium Korwil Jawa Timur-Bali melantik pengurus ini dengan melakukan sumpah pada setiap Pengurus. Kemudian dalam sambutannya Saudara Nashruddin Qawiyurijal sebagai perwakilan Korwil Jawa Timur-Bali mengatakan bahwa IKAMI Sulsel Cabang Malang adalah sebuah Rumah yang mana pondasinya, tiangnya, atapnya, dan halamannya merupakan Tanggung Jawab semua Anggota IKAMI Sulsel Cabang Malang.

DEMIKIAN