Panngadakkang


Pangadakkang adalah saling menghargai sesama manusia. Pangadakkang dapat diartikan sebagai keseluruhan norma yang meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesamanya manusia dan terhadap pranata sosialnya yang secara timbal balik dan yang menyebabkan gerak dinamik masyarakat. Pangadakkang dalam kehidupan masyarakat Bugis Makassar berpatokan pada ikatan siri'na pacce. Siri' secara harfiah berarti malu, merupakan nilai simbolik sebagai martabat dan harga diri manusia, sementara pacce secara harfiah berarti pedih adalah rasa solidaritas yang tinggi. Jadi dalam segala aktifitas tingkah lakunya orang Makassar selalu bersandarkan pada siri'na pacce yang merupakan kekuatan dari pangadakkang.

#budayata6 #budayata2017 #wattunami#ikami #ikamisulselcabmalang

Tari Paddupa Bosara'




Tari paduppa bosara merupakan tarian yang di bawakan oleh wanita-wanita manis yang membawa kue yang di hantarkan kepada tamu sebagai tanda penghormatan. 

Tari paduppa bosara kini mempunyai banyak tari kreasi\sudah di kreasikan oleh sebagian masyarakat bugis . Tarian ini menggunakan busana adat bodo dengan hiasan lengkap seperti kalung rantai motif bunga, gelang, hiasan rambut atau bando, anting, dan pinggiran lengan pergelangan tangan yang sangat glamour. Gerakan tarian ini sangat luwes sehingga enak untuk dilihat.

Bosara sendiri merupakan piring khas suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Bahan dasar bosara berasal dari besi dan dilengkapi dengan penutup khas seperti kobokan besar yang dibalut kain berwarna terang, seperti warna merah, biru, hijau atau kuning, yang diberi ornamen kembang keemasan di sekelilingnya. Bosara biasanya diletakkan di meja dalam rangkaian acara tertentu, khususnya acara yang bersifat tradisional dan sarat dengan nilai-nilai budaya. Selain digunakan sebagai salah satu alat yang digunakan para penari tarian daerah, bosara juga biasanya menjadi tempat sajian aneka kue tradisional yang diletakkan di meja pada acara resmi pemerintahan sebagai simbol adat Suluwesi Selatan, khususnya pada acara-acara sakral seperti pesta pernikahan adat.

Budayata

Mari simak penjelasan kakanda Khairul Fajrul tentang apa itu Budayata. Yang merupakan salah satu agenda tahunan dari kami, yang sekarang ini sudah memasuki tahun ke-6.


Sejarah Ikami Sulsel

SEJARAH IKAMI SUL SEL




Sebelum terbentuknya IKAMI SUL SEL, para Mahasiswa dan Pelajar asal Sulawesi Selatan yang menuntut ilmu di perantauan, telah membentuk organisasi pemuda /pelajar /mahasiswa dengan berbagai bentuk, nama, sifat dan tujuan operasional.
Suatu hal yang menarik, di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan sendiri IKAMI SULSEL tidak dijumpai. Yang ada adalah organisasi pemuda /pelajar /mahasiswa yang memakai atribut Kabupaten /Kotamadya, seperti: IPMIL (Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu), IMPS (Ikatan Mahasiswa Pelajar Soppeng), KEPMI (Kerukunan Pelajar Mahasiswa Indonesia) Bone, HIPERMAWA (Himpanan Pelajar Mahasiswa Wajo), HPMT (Himpunan Mahasiswa Pelajar Turatea) Jeneponto, KKMB (Kerukunan Keluarga Mahasiswa Bulukumba), GEMPITA (Gerakan Mahasiswa Pelajar Tana Doang) Selayar, HIPERMAJU (Himpunan Mahasiswa Pelajar Mamuju), GAPPEMBAR (Gabungan Pemuda Pelajar Mahasiswa Barru), dan lain-lain.

Akan tetapi, diluar wilayah Propinsi Sulawesi Selatan, “aspirasi“ generasi pemuda pelajar dan mahasiswa disalurkan hanya pada “satu bendera“ dengan atribut “Sulawesi Selatan“. Tidak ada lagi warna daerah (Kabupaten /Kotamadya), semuanya lebur dalam satu ikatan kekeluargaan, yang berdiri hampir di semua kota-kota besar di seluruh Indonesia, dimana saja generasi muda Sulawesi Selatan berada.

Mengingat bahwa Pulau Jawa merupakan “kiblat” bagi generasi muda intelektual dari seluruh penjuru tanah air untuk mengadu nasib khususnya guna menuntut ilmu, tidak aneh kalau dari Pulau Jawa-lah lahirnya gagasan dan prakarsa mempersatukan organisasi-organisasi sejenis yang memakai atribut Sulawesi Selatan kedalam satu ikatan yang terorganisasi dengan sistem manajemen profesional.

Seperti terungkap pada awal tulisan ini, di luar wilayah provinsi Sulawesi Selatan kekompakan putera-puteri daerah yang datang dari berbagai latar belakang etnis ternyata dapat terjalin lebih erat. Apakah ia dari etnis Bugis, Makassar, Mandar, Tana Toraja, atau Sub etnis campuran seperti Selayar (sub- etnis Makassar), Palopo (sub-etnis Bugis) Polmas (sub-etnis Mandar-Toraja), Enrekang (sub-etnis Bugis-Toraja) kesemuanya menyatu dalam ikatan kekeluargaan Sulawesi Selatan. Hanya saja, di setiap daerah perantau, setiap “kelompok” Sulawesi Selatan berdiri sendiri-sendiri secara otonom, tidak ada kaitan organisator antara organisasi “Sulawesi Selatan” yang satu dengan organisasi “Sulawesi Selatan” yang lainnya.
Keadaan ini berlangsung sampai tahun 1961, yaitu ketika 8 Organisasi otonom pelajar /mahasiswa “Sulawesi Selatan” menyatukan kebulatan tekad membentuk sebuah wadah, yang pada awal kelahirannya masih berbentuk konfederasi, dimana setiap organisasi tetap membawa nama dan otonominya masing-masing.

Gagasan konfederasi ini disponsori oleh IPMSS Jakarta, IPISS Yogyakarta dan PPSS Bandung, yang berhasil menyelenggarakan pertemuan yang di sebut Musyawarah Besar (MUBES) I bertempat di Ciloto Puncak Jawa Barat, tanggal 28-30 September 1961 yang dihadiri oleh 8 (delapan) organisasi pelajar / mahasiswa Sulawesi Selatan, yaitu:
1. Ikatan Pelajar /Mahasiswa Sulawesi Selatan (IPISS) Yogyakarta
2. Ikatan Pelajar /Mahasiswa Sulawesi Selatan (IPMSS) Jakarta
3. Ikatan Pelajar /Mahasiswa Sulawesi (IPIS) Malang.
4. Ikatan Pelajar /Mahasiswa Sulawesi (IPIS) Bogor.
5. Kontak Pelajar /Mahasiswa Sulawesi (KPS) Semarang.
6. Kesatuan Pelajar /Mahasiwa Sulawesi Selatan (KPSS) Surakarta.
7. Keluarga Pelajar /Mahasiswa Sulawesi Selatan (KPMS) Surabaya.
8. Persatuan Pelajar /Mahasiswa Indonesia Sulawesi Selatan (PPSS) Bandung.

Dalam MUBES I ini disepakati untuk membentuk suatu Badan Musyawarah (konfederasi) dengan nama “Badan Musyawarah Mahasiswa /Sulawesi Selatan Tenggara se Jawa“. Sesuai sifatnya merupakan Sekretariat Bersama, maka pucuk pimpinan organisasi dipimpin oleh Sekretaris Jendral, dimana MUBES I tersebut berhasil memilih Tadjuddin Latief B.Sc. Selaku Sekjen yang pertama. Sedangkan Tujuan Organisasi dirumuskan: untuk membina Mahasiswa /Pelajar Indonesia menjadi sarjana yang bertakwa dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
Momentum MUBES I inilah yang kemudian di tetapkan sebagai hari lahir IKAMI SULSEL, yaitu tanggal 30 September 1961. Organisasi-organisasi mahasiswa /pelajar Indonesia Sulawesi Selatan yang tersebar di seluruh Pulau Jawa yang semula terpisah-pisah dan berjuang sendiri-sendiri, mulai saat itu telah menyatukan komitmen dalam satu landasan perjuangan dan cita-cita.
Sejalan dengan perkembangan jumlah anggota, semakin terasa pula meningkatnya berbagai kebutuhan, teristimewa bagi mahasiswa /pelajar diperantauan yang menjadi anggota organisasi, yang harus dikelola dan diayomi. Dengan adanya satu wadah urun rembug, sambung rasa dan sambung saran, penyelenggaraan MUBES berikutnya sudah mulai terarah pada kesatuan gerak dan langkah-langkah pelaksanaan program-program setiap cabang, yang dibawa untuk dikaji dan dicari solusinya.

Penyelenggaraan MUBES II /Sidang MPOA I di Bandung tanggal 26–31 Agustus 1963, selain dihadiri oleh ke delapan organisasi Badan Musyawarah ditambah dengan satu anggota baru, yaitu PERMAHIS (Persatuan Mahasiswa /Pelajar Indonesia Sulawesi) Salatiga. Dengan demikian pada MUBES II tersebut tercatat 9 (Sembilan) organisasi anggota. Ketika itu PPSS Bandung selaku “tuan rumah” ikut menggaet mahasiswa dan pelajar asal Sulawesi Tenggara, dan tampil dengan nama baru: HIPASULSELRA (Himpunan Mahasiswa /Pelajar Sulawesi Selatan Tenggara).

Dalam MUBES II itu, disepakati penggantian nama federasi menjadi IKOMI SULSELRA (Ikatan Kekeluargaan Organisasi Mahasiswa /Pelajar Sulawesi Selatan Tenggara). Struktur kepengurusan lebih disempurnakan dan mulai mengarah pada bentuk kesatuan namun masih belum meninggalkan sepenuhnya sistem konfederasi. Kepengurusan dikelola oleh sebuah Presidium yang bersifat pimpinan kolektif, dipimpin oleh Ketua Presidium (koordinatif), dan tetap didampingi oleh Sekretaris Jendral yang sifatnya fungsional. Tegasnya, IKOMI SULSELRA yang terjemahannya-bebas dari akronimnya juga berarti Hanya Engkau, menyatakan penyatuan antara bentuk kesatuan dan bentuk federasi. Dalam MUBES II ini terpilih Muhjin Hasanuddin sebagai Ketua Presidium dan A. Rachman Tolleng sebagai Sekretaris Jendral.

Menjelang akhir Masa Bakti Pengurus hasil MUBES II, negara dan bangsa kita menghadapi ujian terberat bagi Ideologi Negara Pancasila dengan pecahnya pengkhianatan G30S/PKI. Tahun-tahun tersebut cikal bakal IKAMI SULSEL yang merupakan bagian dari organisasi kemasyarakatan pemuda, ikut memperkuat barisan Angkatan ’66 yang menuntut tegaknya keadilan dan kebenaran di bumi tercinta ini. Di saat itu, tampillah tokoh-tokoh mahasiswa /pelajar di barisan terdepan, turun ke arena demonstrasi untuk memperjuangkan TRITURA, yang menjadi tekad perjuangan seluruh angkatan muda tanpa melihat latar belakang masing-masing. Semua merasa terikat dalam satu gerak dan langkah perjuangan untuk menyelamatkan Pancasila dan Negara serta Proklamasi 1945. Sejarah mencatat, perjuangan “anak-anak” ini ikut menjadi faktor penentu Orde Baru.
Anggota-anggota IKOMI SULSELRA turut menggabungkan diri di semua bagian Kesatuan Aksi bersama-sama angkatan muda Indonesia lainnya sebagai pelopor dan pendobrak tirani dalam upaya menegakkan kebenaran dan keadilan. Namun demikian, detengah-tengah hiruk pikuknya derap langkah perjuangan, IKOMI SULSELRA masih tetap sempat kembali ke kampus sejenak mengatur langkah agar ayunannya ke depan lebih terarah dan berkonsolidasi. Diadakanlah MUBES III /Sidang MPOA II di Malang pada tanggal 12–16 Juli 1966, dimana tokoh-tokoh Nasional sempat memberikan amanat, termasuk Presiden Soeharto dan Ketua MPRS Jendral DR. A.H. Nasution.

Dalam MUBES III dirasa perlu untuk merentangkan lebih luas jaringan organisasi dengan perubahan nama dari IKOMI SULSELRA menjadi IKAMI SULAWESI yang diikuti dengan penyempurnaan bentuk, sifat, maupun struktur organisasi. Dalam arena MUBES III bertambah pula anggota baru, dengan masuknya Ikatan Keluarga Sulawesi (IKS) Jember yang bermaksud melestarikan nama IKOMI sehingga merubah nama organisasi menjadi IKOMI Jember, menyusul perubahan IKOMI SULSELRA menjadi IKAMI SULAWESI.

Dengan masuknya IKOMI Jember, maka genaplah 10 (Sepuluh) organisasi yang menggabungkan diri menjadi IKAMI SULAWESI. Sosok persatuan semakin nampak, dimana pucuk pimpinan tidak lagi berbentuk Presidium, melainkan langsung dipimpin oleh Ketua Umum, yang waktu itu terpilih Drs. A. Mappi Sammeng, didampingi oleh M. Arief Wangsa sebagai Sekretaris Jendral.
Dibawah kepemimpinan Drs. A. Mappi Sammeng dilakukan restrukturisasi organisasi dengan hanya “satu bendera” IKAMI SULAWESI yang dalam derap langkahnya sudah meninggalkan bentuk federasi dengan berbentuk kesatuan yang vertikal secara struktural organisatoris, dengan Pengurus Besar di tingkat Pusat, yang membawahi beberapa Pengurus Cabang. Maka ketika diselenggarakan MUBES IV di Ciawi Bogor tanggal 1–4 April 1970, yang hadir bukan lagi utusan organisasi otonom, melainkan 10 (Sepuluh) Cabang IKAMI SULAWESI yang waktu itu baru terbatas pada yang ada di Pulau Jawa, yakni:
IKAMI SULAWESI Cabang Jakarta;
IKAMI SULAWESI Cabang Bandung;
IKAMI SULAWESI Cabang Bogor;
IKAMI SULAWESI Cabang Yogyakarta;
IKAMI SULAWESI Cabang Semarang;
IKAMI SULAWESI Cabang Salatiga;
IKAMI SULAWESI Cabang Surakarta;
IKAMI SULAWESI Cabang Surabaya;
IKAMI SULAWESI Cabang Jember, dan
IKAMI SULAWESI Cabang Malang.

Forum MUBES IV memilih Drs. Ec. Ali Adam sebagai Ketua Umum dan Basenang Saliwangi sebagai Sekretris Jendral. Melihat kecenderungan komposisi Cabang, Pengurus dan Anggota dan dengan semakin timbulnya kesadaran berorganisasi di kalangan generasi muda mahasiswa dan pelajar perantauan dari seluruh penjuru tanah air, serta dengan mempertimbangkan berbagai masukan dalam forum MUBES, maka pada MUBES V di Ciawi Bogor tanggal 28–31 Desember 1975 dan sidang lanjutan 27 Mei 1976 di Jakarta, forum memutuskan untuk lebih menfokuskan kegiatan pada lingkup yang lebih kecil, yang direfleksikan pada perubahan nama IKAMI SULAWESI menjadi IKAMI SULSEL. Dalam konsiderans keputusan perubahan tersebut di tekankan bahwa hal ini semata-mata didorong oleh keinginan luhur dan murni serta meyakini bahwa tujuan organisasi hanya dapat tercapai dengan usaha yang teratur dan penuh tanggung jawab. Untuk pertama kali dalam MUBES V ikut bergabung Cabang dari Luar Jawa, Yakni IKAMI SULSEL Cabang Palembang.
Forum MUBES V berhasil memilih Syarifuddin Masselangka sebagai Ketua Umum dan Alwi Amien sebagai Sekretaris Jendral.

Pada MUBES VI yang dilaksanakan pada tanggal 7–11 Januari 1982 di Kaliurang Yogyakarta, beberapa pokok persoalan yang selama ini muncul sebagai tantangan organisasi menempatkan acara MUBES sebagai forum pencarian jawaban atas soal tersebut. Disamping itu, upaya-upaya guna menserasikan derap langkah organisasi dengan realitas zaman tetap dilakukan. Hal ini dianggap urgen, sebab IKAMI SULSEL tidak mungkin hanya menjadi “penonton” terhadap gejala dan fenomena yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Pada penyelenggaraan MUBES VI tersebut, Jumlah Cabang IKAMI SUL-SEL berkembang menjadi 12 (Dua Belas), dengan masuknya IKAMI SUL-SEL Cabang Ciputat, yang berdasarkan pertimbangan praktis, massanya cukup besar untuk berdiri sendiri, berdampingan dengan IKAMI SUL-SEL Cabang Jakarta, yang ikut menjadi “pendiri” organisasi ini. Forum MUBES VI berhasil memilih Azis Taba Pabeta sebagai Ketua Umum dan Muhammad Saleh A.F. sebagai Sekretaris Jendral.

MUBES VII dilaksanakan tanggal 26–29 Juli 1984 di Jember Jawa Timur. Tema MUBES: “Dengan MUBES VII IKAMI SULSEL Kita Wujudkan Kesatuan Dalam Kebhinnekaan”. Merupakan refleksi dari cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-wawasan Nusantara, betapa pun ada unsur kewilayahan dalam akronim organisasi ini. Hal itu lebih nampak dari booklet yang diterbitkan pasca MUBES, dimana pada halaman awal turut memberikan kata sambutan: Gubernur Kepala Daerah Tk. I Sulawesi Selatan Prof. DR. H.A. Amiruddin dan Walikota Jember R. HirdjanSoewarso, B.A.

MUBES VIII mempercayakan jabatan Ketua Umum kepada Andi Guntur Sose dan Jendral M. Anwar Andi Baso sebagai Sekretris. Setelah itu kegiatan organisai hampir “tenggelam”. MUBES yang seharusnya dilaksanakan setiap 3 (Tiga) tahun sekali tidak terlaksana. Keaktifan Cabang-cabang tidak diimbangi oleh Pengurus Besar. Terjadilah stagnasi /kevakuman kegiatan organisasi yang menimbulkan keprihatinan beberapa Cabang, mengusulkan penyelenggaraan MUBES luar biasa. Dengan disponsori oleh 4 (Empat) Cabang, yaitu IKAMI SULSEL Cabang Jakarta, IKAMI SULSEL Cabang Bogor, IKAMI SULSEL Cabang Ciputat dan IKAMI SULSEL Cabang Bandung, maka diselenggarakan MUBES VIII (Luar Biasa) di Cipayung Bogor Jawa Barat, tanggal 23–26 Maret 1989. Inilah pertama kalinya dalam sejarah IKAMI SULSEL diadakan MUBES dengan status luar biasa. Ketika itu terdapat 21 (Dua Puluh Satu) Cabang IKAMI SULSEL yang mendaftarkan diri pada Panitia, tetapi pelaksanaan musyawarah hanya dihadiri 15 (Lima Belas) Cabang. Terpilih sebagai Ketua Umum: M. Arief Pahlevi Pangerang dan Bustamin Bashir di percayakan memangku jabatan sebagai Sekretaris Jendral.

“Care taker” Pengurus Besar IKAMI SUL-SEL hasil MUBES VIII berhasil menyelenggarakan MUBES IX di Ujung Pandang tanggal 19–23 September 1992. MUBES ini juga menyertakan acara Sarasehan Nasional yang diselenggarakan sebelum acara MUBES. Hadir dalam Sarasehan tersebut Menteri Pemuda dan Olahraga Ir. Akbar Tanjung, Menteri Transmigrasi Soegiarto, didukung oleh seluruh petinggi di daerah termasuk Gubernur Kepala Derah Tingkat I Selawesi Selatan Prof. DR. H. A. Amiruddin. MUBES IX mengukuhkan M. Arief Pahlevi Pangerang sebagai Ketua Umum dan untuk jabatan Sekretaris Jendral dipercayakan kepada Muhammad Yunus.

MUBES X yang diselenggarakan di Samarinda Kalimantan Timur tanggal 19–20 November 1995, didahului dengan Dialog Nasional pada tanggal 17–18 November 1995. Rangkaian kedua acara ini berangkat dengan tema: “Pemberdayaan Potensi Sumber Daya Manusia dan Potensi Sumber Daya Alam Kawasan Timur Indonesia (KTI) dalam Mensukseskan PJP II”. Kesuksesan pelaksanaan MUBES ini menghantarkan Wahidah Laomo sebagai Ketua Paniitia Pelaksana MUBES sukses pula dinobatkan menjadi Ketua Umum IKAMI periode 1995-1998.

Kepemimpinan Wahidah laomo yang awalnya diragukan oleh sebahagian senior IKAMI dengan alasan status “wanita” justru memperkuat eksistensi IKAMI sebagai organisasi kepemudaan yang diperhitungkan dalam proses pembangunan daerah Sulawesi Selatan. Hubungan yang erat antara IKAMI, Pemda Sul-Sel dan tokoh-tokoh masyarakat Sul-Sel yang berdomisili di luar Sul-Sel terekspresi dalam kesuksesan setiap penyelenggaraan kegiatan IKAMI.

MUBES XI pada tanggal 21-24 April 1999 yang diselenggarakan di Jakarta dalam kondisi Negara berada pada proses transisi kepemimpinan nasional, menetapkan sdr. H. M. Suaib Didu sebagai Formateur /Ketua Umum periode 1999-2001 dan Idang Hadijah Farouk sebagai Sekretaris Jendral.

Tidak banyak yang dapat dilakukan IKAMI pada periode 1999-2001, faktor kesibukan Ketua Umum yang mendapatkan kepercayaan untuk memimpin salah satu organisasi kepemudaan tingkat nasional lainnya membuat kinerja pengurus kurang terkonsentrasi. Roda organisasi yang berjalan seperti keong ini hanya menunggu saat MUBES sebab cabang-cabang pun menjadi kurang inisiatif dalam mengoreksi kinerja pengurus besar yang berujung pada penolakan laporan pertanggung jawaban PB oleh sebagian besar peserta MUBES Ke XII.

MUBES Ke XII dirangkaikan dengan acara SEMINAR NASIONAL yang diselenggarakan di Bogor, pada tanggal 10-13 Mei 2002 dibuka oleh Bpk. Gubernur Sulawesi Selatan H. Z.B Palaguna. Selanjutnya Seminar Nasional dengan pemakalah Bpk. Prof. Dr. H. Ryaas Rasyid, DR. Ir. M. Said Didu , H. M. Aksa Mahmud, Prof. Drs. H. Anwar Arifin dan wakil dari IPB Bogor. MUBES Ke- XII ini mengukuhkan Abdillah Natsir sebagai Ketua Umum.

MUBES Ke XIII diselenggarakan di Bumi Sepucuk Jambi Sempilan Lurah di Jambi. Dalam acara tersebut dirangkaikan dengan Orasi Ilmiah DR. Ir. M. Said Didu yang membahas peran mahasiswa dan pemuda yang mengalami pergeseran nilai dalam dunia politik. MUBES KE XIII ini mengukuhkan Saifuddin Rum sebagai Ketua Umum yang berasal dari IKAMI SUL-SEL Cabang Bogor.

MUBES Ke XIV diselenggarakan Di Asrama Haji Surabaya Pada Tahun 2007 dirangkaikan dengan Orasi Ilmiah Oleh Kakanda Marwah Daud Ibrahim, dalam pelaksanaan tersebut berhasilkan Mengukuhkan Saudara Saharudin Didu Sebagai Ketua Umum.

MUNAS Ke XV diselenggarakan di Bandung Pada Tanggal 29 Juli–01 Agustus 2009 dengan Tema ”Reorganisasi dan Optimalisi Spirit Kekeluargaan Serta Kebersamaan Mewujudkan Khazanah Intelektuak Generasi Penerua Bangsa Dalam Mewujudkan Indonesia Mandiri” pada waktu itu pemerintahan Indonesia mengalami masa transisi, kegiatan ini berhasil mengangkat saudara Burhanuddin Thomme sebagai Ketua Umum dan Nurhabibie Rifa’i sebagai Sekretaris Jendral.

Jakarta, 30 Agustus 2009
Di Copy dari website PB IKAMI SULSEL

Nantikan Kami di Budayata'6


Semua orang berhak pergi sejauh yang mereka inginkan,
berbaur dan menerima budaya baru ditempat yang mereka pijak adalah keharusan,
tapi ingat bukan berarti budaya asal terlupakan.
Kami, 
IKAMI SULSEL Cab. Malang kembali mempersembahkan Budayata'6
Sebagai wujud kecintaan kami terhadap budaya yang mendidik dan membesarkan kami.
Sebagai bukti nyata bahwa Indonesia adalah negara dengan aneka ragam budaya. 
Nantikan di bulan Oktober 2017.


IKAMI Cabang Malang dan Kerinduan

IKAMI Cabang Malang dan Kerinduan

Oleh : Muh. Rheza Aditya

“Masa muda adalah masa dimana penuh dengan  pengalaman dan pengalaman itu harus dipupuk dengan penuh pengabdian agar rakyat bisa merasakan langsung kehadiran para pemudanya”
Paradigma di atas sebagai konstruksi ide yang mengenalkan jati diri kita sebagai bangsa yang memiliki jiwa sosialis. Dan ini harus dianggap sebagai pilar yang melandasi bangsa ini. Sehingga, nilai-nilai sosial perlu kita jaga sebagai identitas bangsa yang melandasi semangat perjuangan kader IKAMI Sulsel Cabang malang sebagai persatuan bangsa Indonesia.

Mahasiswa Sulawesi Selatan yang mencari ilmu di tanah Jawa telah memegang komitmen untuk membangun sebuah organisasi daerah yang bernama IKAMI Sulsel pada tanggal 30 september 1961. Tekad membara dan semnagat untuk membuat sebuah wadah bagi pelajar yang menuntut ilmu di tanah rantau memang sangat dinamis bahkan beberapa kali berganti nama. Tapi tidak menghilangkan substansi dari organisasi ini untuk tetap mewadahi pelajar Sulawesi yang merantau di tanah jawa pada saat itu.
Pada awal berdirinya organisasi ini, telah dirumuskan tujuan, “Untuk membina mahasiswa/pelajar menjadi sarjana yang bertakwa dan bertanggungjawab atas terciptanya masyarakat adil dan makmur yang di ridhoi Allah SWT”. Tujuan ini sangat relevan dengan organisasi ni dan memberikan sebuah ketegasan kepada para mahasiswa bahwasanya orang-orang yang ada diwadah tersebut mengembang tanggungjawab moral untuk bisa mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia. Tidak dipungkiri bahwa dengan tujuan IKAMI seperti ini mahasiswa perantauan dari Sulawesi harus bisa memiliki jiwa-jiwa intelektual sebagai identitas dari pada mahasiswa sehingga ketika berada di dalam kampus mahasiswa Sulawesi bisa menyelesaikan gelar sarjananya dengan waktu yang tepat dan menjadi perhatian baik bagi para mahasiswa lain.
Menurut subjektivitas saya, mahasiswa yang menginjakkan kakinya di tanah Jawa tidak sedikit dari mereka membawa asa untuk bisa menjadi mahasiswa yang memiliki pengabdian tinggi  dan sembari memperkenalkan budaya Sulawesi Selatan ke tanah Jawa. Rangkaian kegiatan yang tiap tahunnya dilihat dan dinikmati oleh para masyarakat kota malang yaitu budayata. Kegiatan ini salah satu contoh memperkenalkan budaya bugis-makassar seperti tarian khas daerah, drama dalam konteks merefleksi sejarah kerajaan Bugis-Makassar. Sehingga meanset dari pada  masyarakat kota malang itu sendiri bahwa mahasiswa makassar itu kasar-kasar perlahan akan hilang dengan sendirinya dengan adanya pementasan budaya seperti itu. Namun seiring dengan terkenalnya kegiatan budayata di Malang, kita yang berhimpun dalam sebuah wadah IKAMI Sulsel cabang Malang lupa akan pentingnya pengabdian diri untuk masyarakat kota Malang itu sendiri terkhususnya Sulawesi Selatan daerah tempat tinggal kita karena masih banyak di pelosok desa yang belum bisa merasakan nikmatnya pendidikan yang sekarang karena kurangnya perhatian pemerintah .
Aksentuasi sebagai entitas dari pada gelar kita sebagai mahasiswa tentu mengembang sebuah amanah bahwasanya mahasiswa Sulawesi Selatan terkenal dengan budaya sosial yang dimana tak mengenal cuaca panas dan dingin untuk mengabdikan diri kepada bangsa indonesia terkhususnya kota Malang apalagi daerah tempat tinggal kita masing-masing. Tentu pondasi seperti inilah yang harus kita rombak bersama karena menurut saya pribadi kultur yang mengikat itu merusak peradaban. Ketika kita merefleksi arah sentral gerakan kader IKAMI Sulsel cabang Malang tentu para pendahulu kita memiliki jiwa patriotisme yang sarat dengan perjuangan. Kerinduan seperti inilah yang kita inginkan sehingga IKAMI Cabang Malang menjadi patron gerakan bagi oraganisasi yang lain. Reposisi arah perjuangan kader IKAMI Sulsel cabang Malang tentu harus memiki desain tersendiri agar tidak menjadi kacau.
Mahasiswa Sulawesi Selatan yang berada dalam wadah organisasi IKAMI Sulsel cabang Malang  ragam kelas sosial dan latar belakang mahasiswa IKAMI masih terjaga. IKAMI Sulsel cabang Malang masih menjadi tempat yang nyaman untuk menyampaikan gagasan dan bukan hanya sekadar berkumpul melepas penat saja. Nyali kita senantiasa harus tetap terpelihara sebab masyarakat kota Malang akan sadar dengan sendirinya dan tahu dengan sendirinya, bahwa jauh diluar sana IKAMI cabang Malang adalah organisasi Mahasiswa bukan event organiser.  Diantara kegelisaan saya ada asa di timur sana, Malang tetap saja akan menjadi pusat kekuasaan tetapi rasa-rasanya tidak akan lagi pernah menjadi pusat pelawanan mahasiswa khususnya kader IKAMI Sulsel cabang Malang. Matahari tebit dari timur, perlawanan mahasiswa memberi cahaya dari ufuk sana. Makassar adalah kiblat gerakan mahasiswa Indonesia. Itu adalah sebuah kerinduan yang harus kader IKAMI Sulsel cabang Malang harus tanamkan dalam lubuk hati dan tetap dipertahankan.
            Merefleksi budaya diskusi dan kajian para pendiri IKAMI Malang tentu sangat memiliki inisiatif tinggi untuk mengikuti itu apalagi didukung semangat untuk berorganisasi dan itu sangat dirindukan adanya. Budaya diskusi di IKAMI Malang kala itu, yang notabene para mahasiswa terpelajar tidak bisa diragukan lagi sosok intelektualitasnya. Disamping itu juga, dari hasil diskusi dan kajian para senior-senior yang dulu tentu ilmu yang telah didapatkan dari suatu kajian langsung diimplementasikan dalam kehidupan sosial. Karena dalam konsep kebenaran sebuah ilmu harus didukung dengan sebuah realitas. Meskipun pada dasarnya konsep dan realita itu selalu terbatas. Semangat dalam berorganisasi di IKAMI Sulsel cabang Malang telah mulai terkikis oleh penyebab dari masuknya pengaruh budaya barat di Indonesia. Oleh karena itu kerinduan seperti berjuang dijalan menyuarakan kebenaran hilang secara perlahan. Revitalisasi dalam konsep perjuangan dalam membela kaum tertindas ini yang kita rindukan, dimanakah sosok garda selama ini yang kita cari ? tentu jawabnya ada pada diri kita masing-masing. Seperti yang dikatakan oleh Najwa Shihab “mahasiswa hari ini harus berani mengambil pendiriran dalam suatu persoalan karena masa muda kita bukan hobby untuk cari aman dengan sikap netral-netralan.”
            Dengan berkontribusi langsung di IKAMI Sulsel cabang Malang pasti akan memberikan manfaat dan pengalaman bagi kita karena pengalaman lebih menekankan bagaimana seseorang hadir di tengah-tengah kemajemukan dan peka atas realitas sosial yang terjadi. Menurut subjektivitas saya, konsep persekawan di IKAMI Sulsel cabang Malang itu belum ada pondasi yang betul-betul kuat. Artinya persekawanan itu harus dibangun dalam sebuah ideologi sehingga yang hadir adalah betul-betul rasa persaudaraan. Sejatinya sebagai mahasiswa yang berada dalam wadah IKAMI Sulsel cabang Malang kita adalah bagian dari pada rakyat, dan tak bisa dipisahkan maka itu harus dipupuk dengan pengabdian. Apalah arti di hari kemudian nanti ketika kita meraih sebuah gelar S1 bahkan Prof. sekalipun, jika tak ada rasa pengabdian untuk negara yang tua ini yakni Indonesia.

Saya menulis ini bukan sebuah apologi atau bentuk pemaafan dari apa yang menimpa saya. Ini hanya sekadar bahan sharing bagi siapa saja yang menilainya sebagai suatu ilmu. Karena saya juga tercederai, saya gagal pada wilayah mengatur waktu. Sebab sampai sekarang saya masih berusaha pada wilayah itu. 

Menjalin Silaturahmi dalam Acara Buka Puasa Bersama Ikami Sulsel Cabang Malang

Buka puasa bersama merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk menyambung tali silaturahmi dan memperkuat hubungan kekeluargaan di bulan suci ramadhan, membangun keutuhan dan kebersamaan. Salah satu program kerja dari bidang Ekstrenal Ikami Sulsel Cabang Mlang yaitu buka puasa bersama yang dilakukan pada tanggal 9 Juni 2017.

Buka puasa ini dilakukan di kediaman ayahanda Saiman yang merupakan salah satu pengurus Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Malang. Dalam acara ini, disediakan makanan khas Sulawesi selatan, yaitu Jalangkote’ untuk mengingat kembali makanan khas daerah sulsel di tanah perantauan. Tak lupa es buah dan makanan ringan lain sebagai pelengkap pabbuka ta’.


Selain itu, acara buka puasa bersama ini di hadiri oleh Pak Muslimin, selaku ketua KKSS Malang Raya. Dalam acara ini, dihadiri oleh beberapa organisasi yang bernaung dalam John Celebes, yaitu perkumpulan organisasi yang ada di pulau Sulawesi, dan juga anggota maupun pengurus Ikami Sulsel Cabang Malang sendiri.