Teater Karaeng Galesong



Teater Karaeng Galesong merupakan reka ulang mengenai perjuangan Karaeng Galesong dalam melawan penjajahan VOC. Karaeng Galesong sendiri lahir pada 28 Maret 1655 , merupakan anak sulung dari Sultan Hasanuddin. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanudindin ia diangkat menjadi Karaeng karena sikap kepemimpinannya. 

Setelah kekalahan Kerajaan Gowa dari VOC. Setelah perjanjian Bongaya, dalam dokumem lontara Karaeng Galesong berpendapat ,"Yang menyerah hanya Raja Gowa, itu tidak berarti peperangan harus berakhir". Jadi Karaeng Galesong bersama rekannya Karaeng Bontomarannu masih terus berperang dilaut terutama sekitar perairan Pulau Jawa dengan membantu perlawanan Trunojoyo dan Sultan Ageng Tirtayasa.



Anngaru




Angngaru dipercayai mengandung nilai magis dan religius. Oleh Karena itu, Aru harus diungkapkan dengan sungguh-sungguh dan harus dilaksanakan pula dengan sungguh-sungguh.

Pada masa peperangan, para prajurit yang akan berangkat ke medan perang, terlebih dahulu mengucapkan sumpah aru (sumpah setia) di depan Sombayya. Pada saat mengucapkan aru, dapat membakar semangat juang prajurit, menumbuhkan jiwa patriotik di kalangan laskar prajurit.

Misalnya pada Kerajaan Gowa, di masa damai, dalam tradisi pemerintahan Kerajaan Gowa, para pejabat kerajaan yang baru diangkat, sebelum melaksanakan tugasnya, terlebih dahulu mengucapkan aru di hadapan Sombayya ri Gowa, bahwa dia akan bekerja bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan kerajaan dan menjungjung tinggi kemuliaan raja. 
Pada masa sekarang, angngaru sering digunakan dalam berbagai kegiatan, seperti upacara adat kegiatan pemerintahan, maupun penyambutan tamu-tamu kehormatan.


Gandrang Bulo




Gandrang Bulo merupakan tarian dari Sulawesi Selatan, tarian ini merupakan salah satu simbol bagi masyarakat Makassar. Tari ini biasanya dilaksanakan ketika ada pesta rakyat. Dalam melakukan tarian para penari diharuskan terlihat bahagia untuk menarikannya.
Gandrang bulo berasal dari dua kata, yaitu “gandrang” yang berarti tabuhan atau pukulan dan “bulo” yang berarti bambu. Tarian ini merupakan simbol keceriaan lantaran didalamnya diselipkan berbagai humor yang membuat para penontonnya tertawa.
Pada awalnya Ganrang Bulo sebenarnya sekadar tarian yang diiringi oleh gendang. Seiring waktu tarian ini diiringi pula lagu-lagu jenaka, dialog-dialog humor namun sarat kritik dan ditambah gerak tubuh yang mengundang tawa. Saat ini, telah terjadi perubahan tari Ganrang Bulo. Perubahan tersebut untuk merespon dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Saat ini Ganrang Bulo dapat dipentaskan dalam berbagai acara baik itu acara seremonial, pentas tari, acara resmi pemerintahan dan lain sebagainya.

#budayata6 #budayata2017 #ikami#ikamisulsel #ikamisulselcabmalang

Pamanca




Pamanca adalah pencak silat bentuk kesenian masyarakat Bugis Makassar yang bersifat olah raga dan diiringi dengan bunyi-bunyi seperti gendang, gong, dan suling. Pamanca merupakan seni bela diri yang gerakannya hampir menyerupai pencak silat, bedanya adalah atraksi pamanca terkenal dengan aksi tusuk-menusuk di dalam sarung, dan para pemainnya menggunakan senjata tajam tradisional yaitu parang/badik sedangkan pada pencak silat para pemain tidak menggunakan senjata tajam (tangan kosong). Pamanca berasal dari kerajaan Gowa, saat itu seni bela diri Pamanca digunakan oleh para pejuang untuk mengusir para penjajah Belanda. Kemudian, seorang pemuda menyebarkannya ke Bantaeng. Dahulu Pamanca digunakan untuk melawan penjajah, tetapi saat ini pamanca hanya ditampilkan saat ada upacara adat, pesta perkawinan, hari jadi kota, pagelaran budaya, dan acara acara sakral atau resmi lainnya.

#budayata6 #budayata2017 #ikami#ikamisulsel #ikamisulselcabmalang#indonesiaberbudaya

Panngadakkang


Pangadakkang adalah saling menghargai sesama manusia. Pangadakkang dapat diartikan sebagai keseluruhan norma yang meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesamanya manusia dan terhadap pranata sosialnya yang secara timbal balik dan yang menyebabkan gerak dinamik masyarakat. Pangadakkang dalam kehidupan masyarakat Bugis Makassar berpatokan pada ikatan siri'na pacce. Siri' secara harfiah berarti malu, merupakan nilai simbolik sebagai martabat dan harga diri manusia, sementara pacce secara harfiah berarti pedih adalah rasa solidaritas yang tinggi. Jadi dalam segala aktifitas tingkah lakunya orang Makassar selalu bersandarkan pada siri'na pacce yang merupakan kekuatan dari pangadakkang.

#budayata6 #budayata2017 #wattunami#ikami #ikamisulselcabmalang

Tari Paddupa Bosara'




Tari paduppa bosara merupakan tarian yang di bawakan oleh wanita-wanita manis yang membawa kue yang di hantarkan kepada tamu sebagai tanda penghormatan. 

Tari paduppa bosara kini mempunyai banyak tari kreasi\sudah di kreasikan oleh sebagian masyarakat bugis . Tarian ini menggunakan busana adat bodo dengan hiasan lengkap seperti kalung rantai motif bunga, gelang, hiasan rambut atau bando, anting, dan pinggiran lengan pergelangan tangan yang sangat glamour. Gerakan tarian ini sangat luwes sehingga enak untuk dilihat.

Bosara sendiri merupakan piring khas suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Bahan dasar bosara berasal dari besi dan dilengkapi dengan penutup khas seperti kobokan besar yang dibalut kain berwarna terang, seperti warna merah, biru, hijau atau kuning, yang diberi ornamen kembang keemasan di sekelilingnya. Bosara biasanya diletakkan di meja dalam rangkaian acara tertentu, khususnya acara yang bersifat tradisional dan sarat dengan nilai-nilai budaya. Selain digunakan sebagai salah satu alat yang digunakan para penari tarian daerah, bosara juga biasanya menjadi tempat sajian aneka kue tradisional yang diletakkan di meja pada acara resmi pemerintahan sebagai simbol adat Suluwesi Selatan, khususnya pada acara-acara sakral seperti pesta pernikahan adat.

Budayata

Mari simak penjelasan kakanda Khairul Fajrul tentang apa itu Budayata. Yang merupakan salah satu agenda tahunan dari kami, yang sekarang ini sudah memasuki tahun ke-6.