Pelatihan Dan Pendidikan IKAMI (PADAIDI) 2022

Oleh: Muhammad Anugrah
Pembukaan (PADAIDI)
Pembukaan (PADAIDI)

Pelatihan Dan Pendidikan IKAMI (PADAIDI) tahun Dua Ribu Dua Dua 2022 yang di laksanakan oleh Organisasi kedaerahan Sulawesi Selatan (IKAMI) Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Sulawesi Selatan Indonesia Cabang Malang yang di maksudkan para Mahasiswa/Pelajar yang berasal dari Sulawesi Selatan atau keturunan Sulawesi Selatan yang melaksanakan studi di Malang agar tetap menjalankan silaturahmi dan mempererat rasa kekeluargaan. Kegiatan ini juga akan memberikan pemahaman tentang keIKAMI-an agar melahirkan generasi yang paham akan maksud dan tujuan Ikami itu sendiri.

Materi ke-IKAMI-an oleh Ketum Ikami Malang Materi ke-IKAMI-an oleh Ketum Ikami Malang
Materi keIKAMI-an (Ketum IKAMI Malang)

Dan juga dari kegiatan PADAIDI tersebut membentuk solidaritas kerja sama, jiwa tolong menolong sesama putra putri Sulawesi Selatan di tanah rantau khususnya di Malang ada pula penyampaian materi "Falsafah Rantau" orang-orang Sulawesi Selatan sebagai pegangan kita di tanah rantau.
Materi falsafah rantau (Kakanda Fuad)

 Kita sebagai perantau dari daerah yang jauh apalagi sampai keluar pulau maka tentu saja sangat penting pegangan atau wejangan yang dipegang teguh oleh orang Sulawesi Selatan pada saat akan berpindah tempat atau merantau, Sehingga kita bisa menjaga atau tidak lupa dari apa yang orang-orang tua kita pesan kan sebelum kita meninggalkan daerah untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Dan ada juga penyampaian beberapa materi yang bisa meningkatkan pemahaman dan pengalaman kita yang baru merantau, ada pula pentas atau pertunjukan tarian adat, beberapa makanan khas, dan juga beberapa pertunjukan atau kebiasaan orang-orang sulawesi, yang bertujuan untuk kita tetap dapat mengingat kearifan dan kekhasan Sulawesi Selatan. 
    
Tentu saja kegiatan PADAIDI ini memiliki tujuan dan latar belakang yang sangat besar, bukan hanya sekedar berkumpul dan bersenang-senang tetapi maksud dan tujuannya adalah para duta atau kita sebagai perwakilan orang-orang Sulawesi Selatan yang ada di malang tetap merasa memiliki keluarga yang sama-sama dari daerah Sulawesi Selatan dan berjuang untuk melanjutkan studi.

Pending ON (Pengetahuan Dinding Online) : Sulawesi Selatan, tempat kembali usai rantau.

Pending ON atau yang merupakan singkatan Pengetahuan Dinding Online merupakan salah satu dari program kerja milik Bidang Eksternal IKAMI Sulsel Cabang Malang periode 2021/2022. Pending ON bertujuan untuk mengoptimalkan media sosial sebagai media penginformasian terkait Sulawesi Selatan. Pending ON berisi beberapa karya yang diciptakan secara original oleh beberapa masyarakat IKAMI Sulsel Cabang Malang dengan 5 kategori yang berbeda. Pada Pending ON kali ini, diangkat tema "Sulawesi Selatan, tempat kembali usai rantau." sebagai pengingat kepada setiap masyarakat Sulawesi Selatan yang merantau.

Download atau Lihat Pending ON disini
REFLEKSI HARI BUMI DI TENGAH PANDEMI
Apa kabar Bumi ? Kita sebenarnya sadar akan apa yang terjadi pada Bumi kita saat ini. Entah kita yang sengaja menutup mata dengan segala kerusakan yang terjadi akibat ulah kita sendiri atau memang kita yang sudah tak peduli. Bumi sedang tidak baik-baik saja. Kalimat tersebut mungkin terdengar agak klise namun sangat layak untuk dipertimbangkan. Bumi saat ini dalam ancaman eksistensial besar bernama krisis ekologis yang menyebabkan berbagai bencana ekologis terjadi. Di Indonesia sendiri Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mencatat ada 652 bencana yang terjadi sepanjang bulan januari hingga februari 2020. Bencana ini didominasi oleh banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan. Korban akibat bencana tersebut tercatat yang meninggal sebanyak 123 orang, 2 orang dinyatakan hilang, sedangkan 1,4 juta orang terpaksa mengungsi akibat bencana tersebut. Tak cukup sampai disitu, kita melihat di belahan dunia lainnya Amerika Serikat misalnya, di negara tersebut di timpa badai salju yang datang silih berganti menebar kerusakan di hampir setiap kota yang berada di wilayah tersebut dikarenakan perubahan iklim yang ekstrim akibat ulah manusia. Australia, mengalami bencana kebakaran hutan paling dahsyat sepanjang sejararah dan menewaskan hampir satu miliar tanaman dan satwa. Pada momen hari bumi kali ini, manusia dihadapkan dalam dua persoalan terkait kerusakan lingkungan yang berakibat pada perubahan iklim serta pandemi covid-19 yang seolah menjelma sebagai monster yang begitu menakutkan. Tapi di sisi lain, pandemi ini juga seolah membawa hikmah. Bumi kita dapat beristirahat sejenak dan bernafas lega saat udara menjadi lebih bersih serta atmosfer dunia secara keseluruhan menjadi lebih sehat. Karena pandemi ini, sebagian besar negara memaksa rakyatnya untuk tinggal di rumah. Pada akhirnya membuat tingkat konsumsi bahan bakar fosil pun menurun. Ini tentu bagus untuk bumi, karena polusi kadar nitrogen dioksida di udara menurun.Tanpa adanya wabah Covid-19, mungkin sulit untuk melihat kondisi atmosfer bumi seperti saat ini. Semoga segala yang melanda bumi kita segera membaik dan yang terpenting semoga dengan peristiwa ini manusia segera sadar akan ulah nya.

"KUMIS" Majalah IKAMI SULSEL Cab. Malang 2019


KUMIS adalah Majalah IKAMI SulSel yang baru pertama kali diterbitkan pada tahun 2019, tepatnya pada bulan Desember ini. Majalah ini berisi mengenai kegiatan IKAMI Sulsel Cab Malang, info Selawesi Selatan dan karya anggota dari IKAMI SulSel.
Berikut adalah adisi pertama dari Majalah KUMIS dari IKAMI SulSel Cabang Malang,


Baca Majalah KUMIS edisi pertama dengan melihat dan mengunduh link di bawah ini :
UNDUH DI SINI

Sadikin Bukan Pelukis Biasa


Sadikin Pard sedang melukis dengan kaki di pedepokannya sendiri di jalan Selat Sunda Raya,(29/01)./ Abhiewardana





Sejatinya, Tuhan tidak menciptakan produk yang gagal. Sama halnya Sadikin Pard (54) pria Asal Malang  yang sejak lahir dianugrahi tangan yang tidak sempurna, dengan kekurangannya ia tidak pesimistis dalam menjalani hidupnya. Bahkan Sadikin sudah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah kendala untuk mencapai kesuksesan. Sadikin menetap di Jl. Selat Sunda Raya D5/35, Kota Malang.

Pria kelahiran 29 oktober 1996 itu mulai melukis sejak taman kanak-kanak. Saat itu ia melukis hanya sebatas hobi. Sadikin juga sempat les melukis secara privat dirumahnya. Hingga mengenyan pendidikan sekolah menengah atas di SMA  Santa Maria Kota Malang, ia masih tetap melukis sebagai hobi. Ditengah keterbatasannya,, Sadikin lalu melanjutkan ke pendidikan tinggi
 Universitas Muhammadiyah Malang ( UMM).

Saat itu, Sadikin memilih jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitek, sebuah profesi yang . Menginjak semester 3 pada tahun 1989, ia mendapatkan informasi dikoran bahwa ada pelukis difabel sama sepertinya yang sukses melukis dengan kaki.

Pada tahun itu juga, ia terinspirasi dan melukis, menciptakan karya menggunakan kakinya, lalu mengirimkan karyanya ke Association Of Mouth And Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang menggunakan mulut atau kaki.

“Tahun 1989, saat itu masih semester 3 saya daftar sebagai pelukis AMFPA” katanya,(29/01/2019).

“Karena gagal di psikologi saat itu, saya jadikan melukis sebagai profesi”, lanjutnya.

Saat tergabung dalam AMFPA membuat sadikin menjaga kualitas lukisannya, setiap tahun ia harus mengirimkan 12 karyanya.

“Saya sudah dibayar di AMFPA, Waktu itu saya diberi 300 Swiss franc, setara 300 ribu.” Ujarnya..

Kemanpuan melukis sadikin terus tumbuh karena kualitas karyanya. Sehingga perlahan-lahan nama sadikin mulai dikenal karena kualitas karyanya.Bukan karena ia tak memiliki tangan, sebagai pelukis.
Sadikin juga kerap mengikuti pameran dari beberapa negara yang diselenggarakan. Ia juga memamerkan karyanya dibeberapa wilayah di Indonesia untuk memperlihatkan kualitas karyanya.

Upanya berhasil. Karyanya laku dengan harga yang tidak murah, bahkan ada lukisannya seharga 250 Juta. Sibuk dengan melukis membuat sadikin harus menyampingkan kuliahnya.

“Saya kuliah sampai semester 8, karena harus berbagi tugas. Kebutulan saya dilahirkan oleh orang tua kurang mampu, jadi saya haruus membiayai uang kuliah dengan hasil lukisan saya. Dengan rela saya melepas gelar sarjana. Saat ini saya menyesal tapi mau diapalagi waktu itu orang tua kurang mampu”. Ujarnya sembari tersenyum.

Banyak faktor yang mempengaruhi rasa optimisme dalam diri Sadikin meski hidup dengan segala kekurangan salah satunya, faktor agama yang dianutnya. Ia menganggap segala yang ada pada dirinya adalah amanah dari Tuhan untuk dimanfaatkan bagi makhluk lainnya.

“Saya percaya Allah itu ada dan maha adil .semua yang diberikan ini adalah amanah yang harus saya manfaatkan sebaik mungkin, ujarnya.

Selain itu, karena kodratnya sebagai lelaki dan harus menafkahi keluarganya.
“Saya sudah beristri dan memiliki 2 anak laki-laki, tentunya saya berkewajiban menafkahi mereka”, ujarnya.

Saat ini, sadikin telah memiliki pedepokan, dan rumahnya sementara direnovasi. Ada juga 3 mobil pribadi, 2 motor pribadi, semua itu penghasilan dari karya lukisannya.  Dibalik kesuksesannya tentunya ada sosok perempuan hebat dibelakangnya yang menjadikannya mandiri hingga saat ini, terutama Ibunya, Sarmi.

Sosok perempuan yang sederhana itu sangat membekas dihati sang pelukis tanpa lengan itu. Sebab sarmi selalu memotivasi dirinya. Bahkan, Sadikin  anak kedelepan dari sembilan bersaudara dan satu-satunya yang tunadaksa,tidak pernah diperlakukan istimewakan oleh orang tuanya.

“Ibu bagi saya guru pertama, sebagai motivator yang berperan penting dalam diri saya, sebab semua anaknya tidak ada yang dimanjakan termasuk saya, kalau saya salah pasti diberi hukuman.

Selain ibunya, ia juga bersyukur memiliki pendamping hidup yang setia, menerimanya  apa adanya dengan segala keterbatasan seperti tini.

“Saya bersyukur, saya pikir semua ini pemberian Allah diberi istri yang sayang, setia pada saya dan kedua anak.

Pewarta Moch Farabi Wardana

Strategi Dan Tujuan

P A R A aktivis organisasi belakangan ini bergerak memandu satu sama lainnya. Tantangan yang dihadapi tidak begitu mudah, sebab kekacauan dan gejolak mengitari mereka. Melihat kecenderungan yang terjadi pada dasawarsa lampau telah mengakibatkan beberapa segmen yang fundamental ikut berubah. Perihal demografis, nilai-nilai, serta privatisasi telah mengalami pergeserasan dengan samar-samar sesuai dengan konsekuen akibat dari keterkaitan dunia yang saling mengikat. Tentu gejolak ini diperburuk karena saling keterkaitan itu meningkat, sehingga di tempat mana pun terjadi perubahan pastilah mengakibatkan perubahan di tempat lainnya (Luke, 1988)
Dalam beberapa versi sejarah mengenai suatu pergerakan atau lahirnya organisasi, secara garis besar dapat dikatakan sebagai upaya untuk melahirkan dan menjaga seputar social welfare, dengan demikian suatu organisasi (entitas lainnya) dapat menentukan jalur yang kemudian akan ia tempuh, sama seperti adagium yang ada dalam konsep Perencanaan Strategis ‘keputusan ini mempunyai implikasi terhadap masa depan’. Akan tetapi perlu untuk diketahui bersama bahwa dalam hal memberikan efek yang signifikan, maka terlebih dahulu organisasi harus dipahami sebagai komponen Negara dan bagian koheren dari masyarakat.
Membahas kembali perihal Perencanaan Strategis yang baru saja disinggung di atas, untuk mengetahui apa Perencanaan Strategis tersebut, maka setidak-tidaknya kita dihadapkan pada Olsen dan Eadie yang mencoba mendefinisikan Perencanaan Strategis sebagai upaya yang disiplinkan untuk membuat keputusan dan tindakan penting yang demi membentuk dan membantu bagaimana untuk menjadi organisasi (atau entitas lainnya), Apa yang akan dikerjakan organisasi, dan mengapa organisasi mengerjakan hal seperti itu. Akan tetapi, pada intinya perencanaan strategis mensyaratkan agar pengumpulan informasi secara komprehensif, mutakhir, dan tentu saja dapat divaliditas.
Dari komponen tersebutlah yang merupakan konsumsi organisasi sehingga dapat tumbuh, berkembang, dan juga mahir dalam melaksanakan apa yang sekiranya ia akan kerjakan. Persis apa yang dikatakan oleh salah satuProvokator abad 21 ini yaitu Rocky Gerung, bahwa kekonyolan terjadi karena kekurangan pengetahuan. Tidak lupa pula, bahwa menjelaskan perencanaan strategis mesti diberikan distingi dengan perencanaan jangka panjang organisasi. Kecenderungan perencanaan jangka panjang  menganggap kalau masa kini akan berlanjut hingga masa depan, sedangkan perencanaan strategis lebih menekankan penilaian terhadap lingkungan di luar dan di dalam organisasi, dan juga beranggapan bahwa di masa depan akan potensi memunculkan kecenderungan baru, diskontuinitas, dan pelbai kejutan (Ansoff, 1980).
Tidak hanya itu, Perencanaan Strategis juga terfokus pada apa yang harus dikerjakan organisasi untuk memperbaiki kinerjanya, dan juga fokus kepada cara mengidentifikasi serta pemecahan isu-isu, sedangkan perencanaan jangka panja lebih memfokuskan pada pengkhususan sasaran (goals) dan tujuan (objectives) serta menerjemahkannya dalam kuantitas anggaran dan program kerja.
Melemahanya pemahaman mengenai metode pemecahan isu patut untuk kita khawatirkan dalam nuansa modern ini, tentu dalam berbagai upaya refleksi juga tidak menjamin, hal tersebut disebabkan karena edukasi yang tidak substansial. Dalam hal memunculkan isu ke permukaan saja masih sangat ambigu, dalam prakteknya permasalahan-permasalahan hanya dilihat secara parsial; artinya bahwa permasalahan tersebut hanya berimplikasi pada beberapa individu, sehingga sekiranya keluputan itu terjadi karena ada deradikalisasi yang tidak tercantum sebagai prosedur dalam upaya refleksi yang diajarkan.

Penulis Muflih Gunawan

Hari kemarin adalah hari esok yang terlalu cepat


IKAMI-Satu pertanyaan yang akan mungkin muncul ketika membaca tulisan di atas yaitu “Bagaimana cara menghadirkan yang lalu sebagai cerminan yang belum nampak?”. Tentunya saya bukan ahli klenik yang mampu meramalkan masa depan dengan menengok tirai yang telah tertutup di petang tadi , tetapi sebagai seorang akademisi yang di tuntut untuk kritis terhadap sesuatu maka akan sangat mungkin kita membuat sebuah Analisa kecil kecilan bahwa masa depan yang akan datang merupakan bibit yang di tanam sore tadi. Jika kita mampu berdamai dengan situasi hari ini kita akan sadar bahwa ada sebuah Local wisdom yang gagal mengikuti evolusi Dawkins yang tidak mampu berkembang mengikuti situasi hari ini dan wisdom itu kita kenal dengan istilah “KE-KELUARGAAN” tentunya saya tidak akan membahas dari segi biologis tapi lebih jauh dari itu untuk coba membongkar latar belakang sosiologis di belakang per-istilahan tersebut. 
Ke-keluargaan tentunya di bangun sebagai infestasi jangka panjang demokrasi dalam IKAMI. Justru karena kita “keluarga” saya akan mengkritik habis habisan dalam semangat rekonstruksi dalam hal ideologi, moral public, etika dan sebagainya sehingga hanya dengan semangat itulah kita bias bercakap-cakap lebih jauh dan bahkan lebih dalam lagi. Namun hari hari belakangan ini kita merasakan ada dalam keadaan distopia yang hadir bukan karena di niatkan dengan serius tetapi kultur yang ada memaksa untuk mengikuti system itu atas latar belakang kepercayaan (background believe) yang lebih dulu di produksi melampaui kemampuan kita untuk melihat apa metodologi atau apa yang mendasari hal itu secara akademis 
Background believe yang melaju melebihi kecepatan menganalisa metodologi sehingga menghasilkan dalil yang baru yaitu “jangan kritik saya karena kita keluarga” akhirnya manifestasi yang di tujukan untuk pembangunan organisasi justru menghasilkan kontradiksi yang menghancurkan sendiri tujuan sebelumnya sehingga kita berada dalam hegemoni tersebut sehingga tidak mampu menciptakan satire, kritik yang tajam tapi tidak di tujukan dengan niat dalam rangka membangun kembali atau menghadirkan kembali makna keluarga yang telah hasilkan oleh pendahulu sebelum sekarang ini.
Bapak pendiri ikatan ini telah terlebih dahulu menyadari dan memberikan ruang agar kita mampu menghadirkan dialektika di setiap situasi dalam rangka mengaktifkan kembali Literasi yang di kikis oleh perkembangan zaman hari hari ini dan atas dasar itulah tulisan ini lahir sebagai kritik akan kondisi hari ini dan sebagai manifiestas awal dalam mengucapkan ulang Literasi yang dan menghasilkan makna primer dari apa yang kita sebut KELUARGA.

Penulis Salman Alfarisi

NO TITLE


Ikami-Sesibuk apapun organisasi mahasiswa turun kejalan dengan aksi sosialanya, sebanyak apapun agenda aktifitasnya jangan sampai membuat organisasi mahasiswa itu lupa bahwa mereka adalah insan akademik. Mahasiswa dengan segala aktifitasnya harus tetap menjaga kuliahnya. Setiap orang tua pasti ingin anaknya selesai kuliah dan menjadi orang yang berhasil. Maka sebagai seorang anak berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mewujudkan keinginan itu, untuk mengukir masa depan yang cerah dan membanggakan orang tua.
Tapi, (kebanyakan) Organisasi mahasiswa yang ada saat ini hanya disibukan dengan proposal-proposal, mengemis dana dengan senyuman palsu pada pihak-pihak perusahaan dan alumni dari organisasi tersebut. Dari berbagai event yang disajikan oleh organisasi-organisasi sekarang yang dananya berasal dari lobi-lobi indah para anggota yang belum sikat gigi, sembari membawa proposal-proposal visioner formalitas yang diselimuti desain warna-warni, sejatinya akan menumpulkan kekritisan organisasi itu sendiri.
Organisasi seharusnya menyajikan kegiatan-kegiatan yang progresif kepada anggotanya. Tapi justru realitasnya, organisasi saat ini kebanyakan hanya membuat event-event yang menyiksa diri anggota organisasi itu sendiri dan hanya bersifat hura-hura saja. Seperti menyajikan event music, event olahraga, ataupun event-event yang sifatnya hanya pembodohan demi menaikkan eksistensi organisasi.
            Organisasi yang menyelenggarakan event-event akan melihat suatu produk-produk kapitalis supaya membuka lapak di event yang dibuat oleh organisasi tersebut. Banyak masyarakat kita yang selalu ditindas oleh ketidakadilan dari para kapitalis dan sudah seharusnya organisasi membela masyarakat sebagaimana peran mahasiswa dan tujuan organisasi mahasiswa (kebanyakan), bukan malah menjauh dari masyarakat dan asik bermesraan dengan korporat-korporat kapitalis yang menyodorkan dana untuk event-event yang diselenggarakan organisasi mahasiswa tersebut. Kalau sudah begini, organisasi mahasiswa hanya seperti pengemis yang bermental event organizer.
            Dari banyaknya event-event yang diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa hanya berisi kesenangan sementara, Itu hanya membuat mahasiswa jauh dari pengkajian keilmuan, penelitian, dan mengawal masyarakat kecil. Sudah seharusnya organisasi mahasiswa menyelenggarakan event yang lebih berguna, seperti seminar-seminar keilmuan dan memperbanyak diskusi terkait isu-isu nasional dengan mengajak organisasi lain dan tidak mengeluarkan banyak biaya.
            Sudah saatnya, organisasi mahasiswa menjadi organisasi mandiri dan revolusioner serta menjadi perangsang disetiap pergerakan mahasiswa dalam mengawal masyarakat kecil. Jangan menjadikan anggota organisasi mahasiswa bermental event organizer ataupun pengemis yang selalu bergantung pada birokrasi apalagi korporat kapitalis yang selau menindas rakyat kecil.
Maka sudah seharusnya organisasi-organisasi menyertakan usaha pendanaan, seperti berwirausaha dengan menjual karya-karya kreatifitas dari para anggota organisasi. Jikalau itu terwujud, bukan organisasi lagi yang mengemis ke birokrasi tapi birokrasi yang mengemis ke organisasi demi melancarkan pencitraan yang dilakukannya. Ingat, organisasi tidak dibangun dengan uang, tapi tanggung jawab, pengabdian dan kasih sayang.



Penulis : Khairul Fajrul

Merawat Budaya Sejak Dini



Ikami-Mungkin kita tidak akan asing lagi ketika mendengar kata budaya kata yang sering atau bahkan setiap hari di lontarkan sebagai dalih ketika kita melakukan sebuah tindakan yang di anggap tidak mewakili perilaku dari apa yang di harapkan dari pendahulu kita, tetapi menafsirkan budaya tidak sesederhana membaca komik dengan secangkir teh di langit senja. Budaya merupakan sebuah perilaku atau kejadian yang di pelihara selama turun temurun sehingga mampu di nikmati hari ini sebagai energy positif dari sebuah Utopia yang di bangun para pendahulu kita untuk mencapai sebuah tatanan masyarakat yang berdab
Mengimajinasikan suatu budaya memerlukan sebuah Abstraksi yang sangat tajam untuk menghadirkan kembali apa yang sudah terjadi di zaman yang telah berlalu beratus tahun yang lalu, tak bisa di pungkiri bahwa kondisi hari hari ini akan membuat kita mengalami sebuah diaspora bukan sebagai seseorang yang meninggalkan asalnya tetapi lebih dari pada itu yaitu tumbuh sebagai seseorang yang melupakan budaya yang ada
Melihat kondisi hari hari ini yang mungkin bisa di katakan lunturlah budaya yang menjadi landasan dalam berinteraksi dengan komunitas yang ada di masyarakat sehingga IKAMI SulSel Cab Malang kembali menghadirkan pagelaran budaya yang sempat di istirahatkan agar mampu hadir dengan sebuah konsep yang lebih matang dari sebelumnya dan menjadi sebuah persembahan teristimewa kepada masyarakat IKAMI SulSel Cab Malang atau bahkan untuk masyarakat umum. Tentunya ini menjadi sebuah acuan untuk dapat membuat sebuah nafas baru dalam rangka melestarikan apa yang menjadi bagian dari kita perantau yang sepatutnya menjadi duta budaya di kampung kita masing-masing. Untuk itu dengan IKAMI SulSel Cab Malang kembali menghadirkan pagelaran budaya dengan tema ; “RITTUMPANNA WALENRENNGE” dengan harapan mampu mengembalikan kembali makna primer sebuah peristiwa bersejarah dalam epos I LAGALIGO

“Masyarakat yang besar adalah masyarakat yang menghargai budaya sebab daripada itu semua rawatlah kehidupan dengan merawat budaya yang ada “

Debat Berbahasa Inggris, Tes Baca Al-Qur'an, Habis Itu Apa Yah ?

Prabowo Jokowi Jilid 2 (Google.com)
IKAMI-Sempat beredar di media meanstrem soal undangan tes baca alquran untuk kedua pasangan calon presiden. Munculnya undangan itu, awalnya dari Dewan Ikatan Dai Aceh itu, tentunya menuai  pro dan kontra dari beberapa pihak, menarik politisasi agama dibalas dengan politisasi agama. Hmmm..

Sebetulnya ide tes baca alquran ini, sudah digaungkan oleh kubu jokowi pada September 2018 Lalu, ketika sempat ramai kubu prabowo menawarkan debat bahasa inggris.

Jadi, kesampean cita-cita kubu jokowi mengajak ngaji bareng kubu prabowo, ngaji bareng lebih damai ketimbang tes baca alquran. Hheehe.

Waktu itu ketika kubu Jokowi mengajukan tes ngaji dinilai sebagai "serangan balasan". Ini waktunya jokowi memiliki kesempatan emas untuk mengubah citranya sebagai musuh ulama. Keislaman Jokowi selalu dipertanyakan, bahkan salah ucap nama surah pun, tetap dihajar. Kasian yah. Hahahahhah.

Kedua usulan itu (ngaji bareng dan debat berbahasa inggris) bagus sih. Tapi tetap saja tidak masuk dalam pikiran saya.

Kenapa ? 

Karena sebagai penyelenggara negara, tidak memiliki korelasi antara pandai baca alquran dan berbahasa inggris dengan kepandaian memimpin. Pemimpin itu pandai memutuskan kebijakan yang berpihak dengan rakyat. Hhaha.

Jika dalam usulan debat berbahasa   Inggris, tentunya Jokowi diragukan. Begitupun sebaliknya jika tes ngaji ini diadakan.

Sebenarnya, dengan adanya tes baca Alquran ini , tentunya akan menguntungkan jokowi sebab, memiliki Kh Ma ruf Amin tentu tak usah kita tanyakan kemampuannya dalam baca Al-Quran.

Disisi lain, jangan ragukan kubu prabowo, sebab ada Sandiaga Uno seorang santri Post Islamisme.

Daripada kita mendengarkan keunggulan dalam baca Alquran masing-masing calon, mending menunggu apalagi setelah debat berbahasa inggris, tes ngaji ataukah tes kejujuran yang menanti didepan sana !


Penulis Moch Farabi Wardana

Sempat Vakum, Budaya'ta Kembali Lagi







Musyawarah Pemilihan Ketua Pelaksana Pegelaran Budaya'ta berlangsung di Asrama Hasanuddin (28/12). Daus.

IKAMI– Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/pelajar Indonesia Sulawesi Selatan Cabang Malang menggelar musyawarah di Asrama Hasanuddin WIB, (28/12). Tujuan musyawarah tersebut untuk menentukan ketua pelaksana yang akan memimpin kepanitiaan Budayata’VII. 

Budayata merupakan program kerja dari bidang budaya dan kesenian.  Program kerja budayata biasanya berbentuk pegelaran budaya. Dalam pegelaran itu terdapat ragam tarian berasal dari sulawesi selatan.

Di tahun 2016 budayata mengusung konsep perjuangan Karaeng Galesong dalam menolak perjanjian bongoyya antara belanda dengan Sultan Hasanuddin waktu itu, dikemas dalam bentuk teater. Ditahun 2017 budayata, tidak digelar dengan alasan pegelaran budaya ini, butuh diistirahatkan.

"Pegelaran budaya baiknya diistirahatkan kemudian hadir kembali dengan konsep baru" , ujar Ikshan Basri selaku mantan ketua umum periode 2016/2017.

Terpilihnya Adit Sebagai Ketua Pelaksana

Saat musyawarah berlangsung, terdapat 4 nama calon yang menyatakan kesediaannya menjadi ketua pelaksana dalam kegiatan Budayata’VII diantaranya Aditya Pratama, Ferdinand Leksi, Fairuz Addin, dan Deden Hidayat.Para calon terlebih dulu menjelaskan strategi dalam menjalankan kepanitiaan kedepannya yang kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab antara audiens dengan calon ketua.

"Dalam keadaan apapun kepanitian dan sehancur kepanitian hingga berdarah saya tidak akan meninggalkan tanggu jawab ini", ujar Adiyta Pratama saat diberikan pertanyaan terkait tanggung jawab sebagai ketua pelaksana ketika terpilih.

Setelah sesi tanya jawab kemudian dilanjutkan dengan pemungutan suara. Dari perolehan pemungutan suara terakhir Adiyta Pratama memperolehan 21 suara, disusul oleh Ferdinand Leksi 13 suara, Fairuz Addin dan Deden Hidayat masing-masing 3 suara. Sehingga dengan resmi Adiyta Pratama menjadi ketua pelaksana Budayata’VII. 

Adit tak ingin memberikan bocoran mengenai konsep budayata VII, sebab baginya ini adalah surpirise untuk warga Malang.

" saya tak ingin konsepnya bocor sebab bukan surprise dong namanya" , tutup adit dengan tersenyum.


Penulis Firdausi Muhammad Akhmad
Editor Moch Farabi Wardana


Harapan Asfar sebagai ketua umum ikami sulsel terpilih 2018/2019

Asfar Waris Basolle terpilih sebagai ketua umum periode 2018-2019
ikami- Azfar Waris Basolle terpilih menjadi ketua umum Ikatan mahasiswa/pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (ikami sulsel)periode 2018-2019 pada musyawarah cabang(muscab) 2018, di Asrama Hasanuddin, Malang,  Jawa Timur (23/11).

Azfar,  menang dengan perolehan suara 29 suara unggul dari kedua calon, Ikshan memperoleh 16 suara dan dan satu calon lainnya Aldi Mauladi memperoleh 8 suara. 


Setelah terpilih, Azfar menyampaikan visi misinya dalam pidato, ia mengatakan ingin mewujudkan ikami sulsel cabang malang sebagai wadah penyaluran aspirasi dan kreatifitas anggota serta tetap menjaga keharmonisan internal maupun external 

" ikami sulsel cabang malang harus mampu menjadi wadah aspirasi dan kreatifitas anggota, kita tetap menjaga satu sama lain, internal dan external" ujar asfar ketua umum 2018-2019.

Ia melanjutkan menyampaikan misinya 

"misinya itu Misi menjalin hubungan dengan pihak-pihak eksternal, menciptakan sumber daya anggota yang berdedikatif terhadap organisasi,pengoptimalan media informasi untuk mewadahi aspirasi dan kreativitas anggota" lanjutnya.

Asfar juga ingin menciptakan sumber daya anggota yang dedikatif terhadap organisasi dan ingin membuka kembali komunikasi dengan pemerintah provinsi sulawesi selatan

"Yang utama, saya ingin membentuk sdm yg dedikatif terhadap orrganisasi dan kedua saya ingin melakukan audiensi kepada pemprov sulsel agar nantinya segala aspirasi teman-teman perantauan dapat didengar dan ditindaklanjuti misalnya saja asrama putra dan putri yang baru" tambahnya ketika diwawancarai seusai pemilihan.

 Proses Pemilihan ketua umum periode 2018/2019 berlangsung  damai.

Penulis Moch Farabi Wardana 

Aku Ingin Melihat

Aku Hanya Ingin Melihat Indahnya Dunia Tanpa Meminjam Mata Kalian ( Pinterest.com)



Aku ingin melihat
Melihat indahnya dunia yang mempesona
Aku ingin seperti yang lain
Yang dapat melihat dengan matanya

Aku lelah meminjam mata orang lain
Untuk ku pakai melihat dunia
Kapan aku bisa seperti mereka?
Bisa melihat tanpa bantuan

Dunia ini tak adil untuk ku
Kenapa hanya aku yang merasakan seperti ini ?
Hanya aku yang merasakan penderitaan ini
Ayah, ibu, dan  saudaraku tak ada yang merasakan  seperti aku

Hanya aku yang tak dapat bermimpi bebas
Buat apa aku hidup?
Jika aku hanya menyusahkan orang sekitarku
Hanya dapat duduk dan terdiam
Tak dapat melakukan apa apa seperti mereka

Apa artiku di muka bumi?
Kalo aku hanya dapat mengganggu semua orang
Aku tidak berguna
Tak ada yang dapat di kagumi dari ku

Bunuh aku saja? jika kalian lelah dengan ku
Atau  aku membunuh diri ku sendiri
Agar semua nyaman tanpa ku
Dan dapat bebas dari gangguan ku

Aku tak ingin di kasihani karena keadaan
Aku tak ingin kau berteman dengan ku karena keadaan ku
Pergilah karena aku hanya menjadi perusak
Perusak dalam kehidupan mu

Tolong , tolong buka mata ini
Ganti mata ini dengan yang baru
Aku ingin melihat aku ingin melihat
Aku tak kuat merasakan hinaan ini


Karya Utari Nur Ramadhanty



Seribu lilin dari Malang untuk Palu


Ratusan Mahasiswa menyalakan lilin dan berdoa bersama untuk Kota Palu,(13/10).
Ikami-  Ratusan mahasiswa perantauan asal Sulawesi Tengah yang tergabung dalam Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sulawesi Tengah (IPPMST), menggelar doa bersama dan aksi seribu lilin di Alun-Alun Kota Malang, (13/10).

Aksi tersebut bertujuan untuk menggalang dana guna membantu kebutuhan logistik masyarakat Sulawesi Tengah, akibat setelah terkena gempa, tsunami, dan likuifaksi.

"untuk hari ini, kami belum hitung tapi dua hari yang lalu sudah ada seratus juta lebih", Ujar Imam Hari Bhakti selaku Ketua Umum IPPMST.

Aksi ini diikuti berbagai organisasi daerah dan komunitas yang ada dimalang, selain aksi seribu lilin dan doa bersama, ada juga panggung kesenian yang berlangsung ramai


"organisasi daerah dari sulsel, sulbar ( Sulawesi Barat ) , sultra (Sulawesi Tenggara)", sambung Imam.

Aksi serupa diadakan di dua kota besar Jakarta dan Makassar.

Imam mengharapkan agar warga Kota Malang ikut serta mendoakan para korban bencana agar diterima disisi Allah Swt.

"saya harap warga Malang membantu saudara kita di Palu dengan doa" tutupnya.





Refleksi Kebudayaan Sulawesi Selatan Di Tanah Rantau



Puluhan mahasiswa asal Sulawesi Selatan sedang mengkaji konsep kebudayaan Sipakainge, Sipakatau, Dan Sipakalebbi, dipelataran Asrama Hasanuddin, Simpang Dieng Utara, Kota Malang, (11/10). Ahmad Majdi



IKAMI- Matahari sudah terbenam, perlahan udara dingin menusuk tulang belulang. Terlihat beberapa mahasiswa asal Sulawesi Selatan(Sulsel) duduk dengan beralaskan karpet di halaman Asrama Hasanuddin,Jl.Simpang Dieng Utara, Kota Malang. Para mahasiswa tersebut  melakukan kajian kebudayaan,(11/10).

Kajian Kebudayaan itu mengangkat tema Refleksi Kebudayaan Sulawesi Selatan Di Tanah Rantau.
kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan  kesadaran terhadap konsep kebudayaan Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge.

" Saya dan Teman-teman  merasa, mengapa sih sekarang kita kurang mengetahui budaya ?, maka kami membuat diskusi ini untuk meningkatkan kesadaran terhadap budaya Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakatau", Ujar Muflih Gunawan selaku Kepala Bidang PSDA.


Ada pula pengenalan aksara Lontara dalam kajian kebudayaan ini. Pemantik melakukan tantangan dengan cara meminta para peserta menuliskan nama lengkap mengggunakan aksara Lontara, namun hanya beberapa orang yang berhasil melakukan tantangan dari pemantik.

"ada 28 peserta namun hanya 8 orang yang berhasil melakukan tantangan dari saya", Ujar Ahmad Mardani selaku pemantik diskusi.

Menurut Mardani minimnya pengetahuan tentang aksara Lontara dikarenakan kurangnya kebiasaan menulis menggunakan aksara tersebut.


Muh Ikhsan Basri, Ketua Umum Ikami Cabang Malang mengharapkan dengan adanya kajian seperti ini, mahasiswa asal Sulsel mampu menerapkan konsep kebudayaan di kota Malang.

"teman-teman bisa mengimplementasikan konsep kebudayaan sehingga menjadi identitas mahasiswa asal Sulawesi Selatan.


Para peserta terlihat antusias mengikuti kajian, salah seorang peserta Risky Alda Amalyah mengingkan kegiatan kajian seperti ini terus berlanjut. Menurut Risky kegiatan ini sangat bermanfaat sebagai mahasiswa perantau.

"jangan diadakan sekali saja, kalau bisa berlanjut. karena kita belajar tentang tradisi sulsel seperti -cara bersikap, maupun penulisan aksara Bugis-Makassar.


Penulis Moch Farabi Wardana


5 Jam menari Tanpa Henti



Ratusan Mahasiswa Universitas Negeri Malang sedang menari ria selama 5 jam tanpa henti di bilangan kampung Warna Warni,(23/09).Abhi

IKAMI- Ada yang nampak berbeda disekitaran sungai brantas kampung warna-warni, jodipan Kota Malang (23/09). Terdengar irama musik tradisional diikuti dengan lekukan tubuh penari lenggak-lenggok gemulai memeragakan beberapa tarian. Semua pandangan tertuju pada perhelatan itu. Teriknya sinar mentari tak patahkan semangat para penari.
Para Penari tersebut adalah mahasiswa dari prodi pendidikan seni tari universitas negeri malang, mereka sedang mengikuti acara bertajuk 5 jam menari dengan tema out of frame. Ada 13 tarian yang ditampilkan dalam acara ini salah satunya tari Jaipong.
Acara ini sebagai Ujian Tengah Semester bagi para mahasiswa, ada 250 mahasiswa yang terlibat dalam acara ini.
Menurut Koordinator Acara Robby hidayat menuturkan kegiatan ini sebagai media pembelajaran kepada masyarakat guna menyadarkan akan pentingnya budaya disisi lain mengajarkan kepada mahasiswa agar tampil kedepan publik.
“Sebagai bahan edukasi kepada masyarakat agar mereka mampu menyanyangi dan tau tentang budaya indonesia dan juga mengajarkan mahasiswa untuk tampil kedepan publik” Ujar Robby, disela-sela kegiatan.
Robby menjelaskan bahwa kegiatan seperti ini juga berlangsung didalam kelas, semisal ada 30 mahasiswa mengikuti event ini sangat disayangkan bila hanya dosen yang menikmatinya, oleh karena itu dikeluarkan kegiatan seperti ini.
Penulis Moch Farabi Wardana 


Ikami Cabang Malang Merenovasi Kediaman





Sejumlah Mahasiswa Asal Sulawesi Selatan Sedang Merenovasi Asama Hasanuddin, (14/09).


IKAMI-  Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/ Pelajar Indonesia (IKAMI) Sulawesi Selatan, merenovasi kediaman dengan mengecat beberapa dinding asrama hasanuddin yang terletak di bilangan Simpang Dieng Utara, (14/09).

Kegiatan pengecetan itu bertujuan guna memberi suasana baru agar terciptanya lingkungan ramah dan bersih, pengecetan tersebut merupakan inisiatif dari Bidang Pelestarian Lingkungan yang dimasukkan kedalam program kerja.

Menurut Kepala Bidang Pelestarian Lingkungan, Sardi menjelaskan pengecetan tersebut bagian dari bentuk kecintaan Organisasi Ikami terhadap hunian mahasiswa asal sulsel itu.

"saya melihat beberapa dinding catnya sudah terkelupas maka saya masukkan sebagai program kerja agar asrama lebih nyaman", ujarnya.

Ada 3 warna yang digunakan, warna orange, abu-abu, dan biru. Sardi mengaku bahwa bahan yang digunakan dalam kegiatan ini, seperti cat, kuas merupakan sumbangan dari beberapa alumni dan anggota ikami.


Penulis Moch Farabi Wardana
Reporter : Moch Farabi Wardana

Kampung Glintung Menyabet Piala Kalpataru

Bambang Irianto menyerahkan piala Kalpataru kepada PLT Wali Kota Malang, (03/09). Moch Farabi Wardana 

IKAMI- Iringan Mobil Ketua RW 23, Purwantoro, Kampung Glintung Go Green Bambang Iriyanto, mengarak piala ajang tertinggi dibidang lingkungan. Rombongan tersebut mulai dari Unisma menuju Balaikota Malang,(03/09).
Penghargaan tersebut diberikan sebagai wujud apresiasi atas keberhasilan warga setempat, memutar balikkan perkampungan yang dulunya kumuh kini menjadi perkampungan hijau, sebelumnya kampung Glintung Go Green meraih penghargaan Environmental Innovation 2016.
Awalnya, Bambang mengaku kesulitan dalam mengubah mindset warga tentang gagasannya untuk mengubah perkampungan tersebut.
“ Saya melakukan berbagai usaha tetap mereka tidak mau, terpaksa saya menggunakan kekuasaan stempel guna sebagai media untuk menghalalkan usaha itu” Ujar Bambang.
“ Biasanya kalau warga mau mengurus sesuatu pasti memerlukan stempel, jadi saya gunakan senjata itu akar masyarakat berubah. jika tidak menanam tumbuhan hijau di rumahnya tidak saya beri stempel”, imbuhnya.
Bagi Bambang, kunci utama kesuksesannya dalam menghijaukan perkampungan Glintung yaitu konsinstensi dan komitmen, Selain mengarak piala ada juga Deklarasi Pless Plastic tersebut berguna untuk menyadarkan Pengurangan terhadap sampah plastik di Kota Malang.
Pless Plastic mulai diterapkan warga Purwantoro pada tahun 2012, setelah melakukan kunjungan di Kota Bitung, Sulawesi Utara.
Reporter : Moch Farabi Wardana
Penulis : Moch Farabi Wardana